Adil

Adil, itu adalah bahasa Indonesia, mungkin juga bahasa jawa, kalau dalam bahasa Inggris mungkin akan lebih banyak opsi bahasanya, Balance, Fair, atau Justice. Intinya adil bukanlah selalu tentang memberi sama banyak, terkadang memberi berdasarkan porsi, memberi beban sesuai kemampuan, dan menilai berdasarkan kondisi. Sungguh si A yang menyumbang 10.000 padahal itu sudah seluruh uang yang dia punya bisa jadi lebih bernilai dari si B yang menyumbang 1.000.000 sedangkan di rekening banknya masih ada duit 100.000.000.

Bagi saya adil adalah ilmu tingkat tinggi, mungkin nilainya setara dengan ‘sabar’ dan ‘ikhlas’, saya tak pernah cukup mampu mencapai pada titik tersebut, rasanya selalu saja merasa picik di kemudian hari atas apa yang telah saya putuskan atau pikirkan.

Aplikasi nilai-nilai adil terkadang bisa membawa kita untuk menimbang sesuatu yang tak selalu mudah untuk dilihat dan tentunya ditimbang, misal saat saya dihadapkan dengan Rio yang butuh modal beratus milyar untuk sponsorship F1-nya, banyak publik mencibir, duit ratusan milyar dihambur-hamburkan hanya untuk pembalap yang belum tentu podium, ‘ya kalo menang, kalo enggak?’, Rio tersudut karena adanya duit negara yang dipakai, lantas kemudian ada publik yang membanding-bandingkan dengan pebulutangkis yang konon menurut mereka lebih hemat duit dan terlebih mereka langganan menang kejuaraan dunia, lagu ‘Indonesia Raya’ lebih sering didengungkan di arena bulutangkis daripada balap jet darat, ada benarnya juga jika kita memandangnya secara sempit, namun demikian cara pandang yang demikian adalah tidak adil. Kita tidak bisa membandingkan suatu bidang olah raga secara apple to apple karena memang kebutuhannya, operasionalnya, teknologinya, dan lain sebagainya berbeda, saya tak mungkin untuk membandingkan F1 dengan bulutangkis meski mereka bisa sama-sama kejuaraan dunia, karena sekali-lagi kompetisi punya aturan sendiri-sendiri, terkadang kita harus menelan pil pahit pada aturan kompetisi yang aneh, tapi bagi saya jika kita selalu bisa mengambil celah positif bukan tidak mungkin kita akan bisa membalikkan menjadi peluang keuntungan, Pertamina pun sebagai perusahaan yang setia mensupport Rio juga mendapatkan slot menampilkan brandnya dengan sangat besar dia kedua armada Manor nomor 88 maupun 94, dan semoga David Coulthard bisa menjadi mentor tepat agar skill Rio semakin terasah.

Usai Rio, ada lagi booming Joey Alexander, musisi jazz cilik berbakat dan berhasil lolos menjadi nominator Grammy Awards 2016, kekerenan bocah ini sudah tak perlu saya tulis lagi, sudah banyak yang menuliskannya, sayangnya lagi-lagi publik membanding-bandingkan dengan Agnes (AgnezMo) yang konon menurut sebagian publik Agnes cuma gembar-gembor doang dan tiada prestasi, lantas mereka pun berargumentasi ‘kalo belum pasti bisa go internasional ya nggak usah sok go internasional’, sedih banget nggak sih dengernya? bagi saya perjuangan itu adalah kita menempuh prosesnya dan bukan selalu tentang ‘prestasi’ yang di dapat saat ini, bagi saya kerjakeras itu adalah ketika kita memasang target tinggi dan kita ngos-ngosan mencapainya berlatih siang-malam yang tak selalu diketahui oleh penonton. Ada orang yang seperti saya yang lebih suka merahasiakan ambisinya agar tidak terbebani oleh ekspektasi orang, tapi ada juga orang yang lebih suka mempublikasikan ambisinya agar dia selalu termotivasi agar tidak mudah menyerah dan agar bisa membuktikan kepada publik, itu hanya pilihan, bagi saya tidak bijak untuk membenarsalahkan salah satu sifat tersebut, Joey adalah anak berbakat, pekerja keras yang beruntung, dia berada di genre jazz yang Amerika sendiri tidak terlalu menjadi kiblat musik tersebut, dia beroleh mentor musisi jazz prestisius pula, AgnezMo berjuang bersaing dengan kompetitor segenre yang penuh sesak karena genrenya populer dan terlebih Amerika memang kiblat genre tersebut. Jika penghargaan menjadi standar kita untuk menilai musisi hebat maka saya tidak akan pernah setuju, tak selalu kehebatan itu dinilai dari kemenangan, lah lalu menilainya dari mana? Ah saya selalu punya cara sendiri untuk menilainya, kita punya hitung-hitungan sendiri, Keadilan itu akan berjalan relatif sesuai dimana kita mendudukkannya.

Saya masih belajar untuk menempatkan Rio, Agnes, dan Joey pada porsi yang adil, sebagaimana saya ingin diposisikan oleh kalian, karena Rio, Agnes, dan Joey pun tak selalu merasa perlu menjelaskan betapa penting misi dia, begitulah pula saya tak merasa perlu dimengerti atas apapun yang sedang diperjuangkan.

Foto : http://manorf1team.com/

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>