Angin Ribut di Wonogiri : Mengingatkan kejadian 14 tahun yg lalu

trafo-roboh

Kejadian yang terjadi tanggal 27 Februari sore itu tidak akan saya lupakan, angin ribut melanda hampir sebagian besar kecamatan Wonogiri, saya ingat betul di jam yang baru menunjukkkan pukul 15.15 itu mendung telah membuat daerah di kampung saya cukup gelap, bahkan sudah seperti dikala maghrib,saya baru saja mematikan tivi saat gerimis sebentar menghempas pelan kemudian reda lagi, ku punguti sisa-sisa jemuran karena aku hanya di rumah dengan bapak doang, dan setelah sampai di ruang tengah lagi aku sadar listrik sudah padam, langsung ku tutup semua pintu dan jendela rumah,berharap jika badai datang saya sudah berada di luar rumah, saya memang cukup peka dengan gejala-gejala badai karena memang saya adalah anak mapala yang pernah hampir putus asa berlindung dari badai di atas gunung merbabu,bapak saya ajak ke luar rumah, hujan deras mulai turun, dihempasan pertama saja beberapa talang depan rumah sudah tidak kuat menampung besarnya volume air dan langsung bocor, dalam waktu yang tidak sampai sepuluh menit emperan lantai rumah saya udah penuh dengan air, badai pertama mulai berhembus, pohon2 besar di depan mata terlihat miring parah mencapai sudut kemiringan 60 derajat, dan braaaaaak, 2 pohon jati, 2 pohon petai roboh, dan braaak lagi sebuah tiang listrik patah, sedemikian hingga angin ribut berdurasi sekitar 20 menit itu berhenti dan menjadi hujan biasa.alhasil listrik rumah padam sampai waktu yang belum saya ketahui.

3

Kejadian ini mengingatkanku pada kejadian yang sama 14 tahun lalu, saat saya masih kelas satu SD, hmm, masih sangat imut waktu itu, suatu masa yang sampai dengan kejadian ini mungkin aku tidak mengingatnya lagi, bukan pada badainya, tapi pada detik-detik setelah hujan reda, dimana saya langsung keliling kampung buat melihat dampak dari kejadian 1 jam yang lalu,ternyata ada 3 rumah kerobohan pohon, 2 tiang listrik patah, dan puluhan pohon roboh.

21

14 tahun lalu saya keliling dengan teman-teman saya,melihat air yang menggenang di lapangan bola, melihat panci, penggorengan,yang berserakan di hantam angin, terpana melihat pohon jati segedhe jengkol bisa roboh, takut melihat petugas PLN berhelm warna kuning gara-gara dibilangin dia adalah tukang sunat (khitan) sehingga membuatku harus sembunyi di balik pintu rumah, iya waktu itu saya takut disunat sampe sempet kepikiran kenapa anak cowok meski dikhitan, ah ada-ada saja ya yang namanya anak kecil, dan sampai saya mengetik ini listrik belum juga menyala, kulihat petugas PLN udah datang sejam sejam lalu, sehingga aku dan nggak takut lagi untuk menghabiskan sisa baterai komputerku.

Written by Arsip

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>