Belajar dari Penj(el)ajah

“Tidak ada pelayaran manusia yang sedemikian penting hingga mendaratnya Apollo 11 di Bulan, 447 tahun kemudian”

Yang kita tahu dari buku sejarah, kita menyederhanakan masalah bahwa penjajah adalah makhluk bengis yang menghancurkan peradaban pribumi dan menggantikannya dengan peradaban baru, sekiranya mereka seperti pasukan yang datang dengan kekuatan besar dan siap meluluh lantakkan jajahannya.

 

Yang kita tahu bahwa mereka datang dengan semangat Gold, Gospel, Glory, dan mereka pasti berhasil, yang kita lihat seperti sebuah gunung es yang tiba-tiba saja muncul es di permukaan laut, kita tak lihat di bawahnya justru besarnya pengorbanan yang tak pernah muncul di permukaan.

 

Semalam saya baca kisah Magelhaens, jika kalian waktu pelajaran sejarah tidak ngantuk mungkin kalian pernah denger nama ini, nama lengkapnya adalah Fernando de Magelhaens, dia adalah penjelajah berkebangsaan Portugis, yang cita-citanya menuju ke Timur jauh hampir kandas karena pergantian takhta Raja Portugis dan si Raja baru kurang menyukainya.

 

Alhasil Magelhaens terpaksa meminta sponsorship dari Raja tetangga (Spanyol) yang sangat tertarik dengan rencananya ke Timur namun menuju ke barat, ke arah dimana Columbus dan Vespuci menemukan Amerika, sebuah rencana yang masih sulit diterima akal karena menuju ke timur lewat barat adalah pertaruhan sekaligus pembuktian bahwa bumi bulat!

 

Melintasi ujung selatan Amerika, Magelhaens melintasi rumitnya selat yang rimbun akan pulau-pulau, di sinilah untuk pertama kalinya dia kehilangan atau ditinggalkan ‘San Antonio’ salah satu dari lima kapal rombongannya, Kapal San Antonio mungkin pulang kembali ke Spanyol! Di selat rumit inilah kini dinamakan selat Magelhaens.

 

Hingga akhirnya rombongan kapal Magelhaens melintasi sebuah lautan luas yang berair tenang, mereka menikmati ketenangan ini dengan berpesta, dan lautan tenang yang mungkin baru dilayari oleh mereka ini dinamakan Magelhaens dengan ‘Pasifik’, meski mencatatkan sejarah, justru disinilah masalah itu dimulai.
Pasifik sampai kini kita ketahui sebagai samudra terluas di dunia, tapi Magelhaens sebagai penemunya belum pernah terlalu memperhitungkan itu, samudra ini seperti tak pernah ada ujungnya, mereka semakin lapar, melemah dan jatuh sakit, sekarat bahkan mati, penulis Italia Pigafetta yang mengikuti pelayarannya mencatat peristiwa ini dengan sangat dramatis.

 

lautan tenang yang mungkin baru dilayari oleh mereka ini dinamakan Magelhaens dengan ‘Pasifik’

 

Pelayaran hebat itu akhirnya berhenti ketika mereka sampai di tanah Filipina yang kala itu dia namai San Lazaro, karena semangat Gospel, Magehaens yang semula disambut berubah menjadi dibenci, dia terbunuh, Pigafetta tak luput mencatatnya.

 

Andai saja Magelhaens tahu bahwa Filipina tak jauh dari Malaka yang pernah dikunjunginya dan dia kembali berkunjung ke sana, maka tak diragukan dia adalah orang pertama yang mengelilingi bumi, tapi itu tak pernah terjadi.

 

Rombongan Magelhaens tidak habis, masih menyisakan beberapa puluh orang, Elcano memimpin, dia adalah mantan pemberontak yang kini ambil tampuk memimpin jalan pulang meuju ke barat, tinggal kapal Victoria yang memimpin dan dikomandoi Delcano, Trinidad, dan Concepción, Namun mereka akhirnya memilih menenggelamkan Concepción dan berlayar pulang dengan 2 kapal.

 

Mereka akhirnya mencapai pulau Rempah (Maluku) mengisi muatan Rempah sebagai Gold mereka, dalam perjalanan pulang, sayangnya kapal Trinidad tertangkap Portugal dan dipenjarakan, Victoria terus berlayar ke arah barat, tanpa berani singgal di satupun pelabuhan bahkan mereka memgelilingi Tanjung Harapan, Keputusan untuk tidak singgah mengisi perbekalan adalah sebuah perjuangan yang mahal, hingga akhirnya mereka tiba di Spanyol, tiga tahun sejak keberangkatan mereka.

 

18 orang yang dalam kondisi mengenaskan itulah orang pertama yang tak terbantahkan berhasil mengelilingi bumi, muatan rempah 26 ton menutup seluruh biaya ekspedisi mereka, meski bagi saya pribadi kematian rombongan yang sebegitu banyak tak akan bisa dibayar dengan harta apapun!

 

Elcano menjadi pahlawan, namun apa kabar Magelhaens? Dan sejarah palsu selalu dibuat oleh pemenang, Para pelaut pemberontak Spanyol merubah sejarah, reputasi Magelhaens hancur dengan gambaran kebengisan dan ketidakbecusan, di negerinya sendiri Portugis reputasi Magelhaens sudah hancur sejak berangkat sebagai penghianat, bertahun-tahun Magelhaens tidak dapat tempat yang layak hingga tulisan Pigafetta sang pelaut Italia yang ikut serta dalam pelayaran Elcano merombak ulang catatan sejarah.

 

“Tidak ada pelayaran manusia yang sedemikian penting hingga mendaratnya Apollo 11 di Bulan, 447 tahun kemudian” tulis Richard Humble, dalam The Voyage of Magellan, Perjalanan Magelhaens memberikan banyak pelajaran dan catatan, Bagi saya perjalanan penjajah bukan sebuah perjuangan sekian jam tapi adalah perjuangan hidup mati untuk mencapai goalnya, berangkat 237 orang dan kembali 18 orang bukan merupakan sebuah pertaruhan murah, hanya pemberani yang akan ambil bagian dalam perjuangan ini, pertanyaannya mental kita saat ini untuk menghadapi tantangan hari ini sudah berapa persen kira-kira dari tantangan Magelhaens saat itu? 100%? 50% atau o,00…%? dari situ bisa disimpulkan penjajah datang ke negeri kita dengan semangat dan tekad yang kuat, kita tak boleh kalah tekad dan semangat.

 

Bahkan jadi pemimpin tak selalu gugur dengan nama harum, Magelhaens gugur dalam reputasi sebagai orang biadab dan penghianat, Jika saja Magelhaens bercita-cita ingin dikenang dengan reputasi baik maka dia bisa saja ambil jalan pintas dengan tidak mampir ke Filipina dan langsung menuju tanah rempah, dia bisa pulang dengan menjadi pahlawan berikut berlimang kekayaan.

 

Pemimpin adalah penyemangat hingga akhir asa, karena sebuah perjalanan jelas banyak kegamangan di tengah jalan, banyak asa yang hilang, banyak ketakutan dan keragu-raguan, jika salah niat maka semangat itu akan mudah jatuh, runtuh dan terjadi perpecahan.

 

Jika Magelhaens tak bervisi, lebih baik tidur saja di istana, tak perlu berseteru dengan raja, tak perlu bersentuhan dengan kapal, jika saja Gold Gospel Glory tidak ada, kita mungkin tidak akan pernah dijajah, tapi kita mungkin takkan pernah mendengar sejarah perjalanan sepenting ini.

 

Penj(el)ajahan itu seperti gunung es, kita hanya melihat kedatangan mereka saja, tapi di balik itu kita lupa disana ada kelaparan, kematian, ketakutan, keputusasaan, kegagalan, pemberontakan, kesakitan, kecacatan, kehilanganarahan, Magelhaens mengajarkan itu dan kita belajar betapa mahalnya semua itu.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>