Berorientasi Apakah Dirimu?

Turun ke Jalan Posting ini mungkin bukan cuman tepat masuk kategori sotoy tapi tepatnya di sotoy banget, terus-terang saya sulit tegas dalam bagian ini, yang bener itu mengerjakan berorientasi proses atau berorientasi hasil, kedua-duanya ada sisi baik dan buruk, meski alangkah lebih baik kalau prosesnya baik dan hasilnya pun baik. kalau kalian lebih condong kemana? jangan pilih kedua-duanya ya? hehe.

Menurut saya, diatas kertas tentulah lebih baik berorientasi pada hasil, toh hasil umumnya merupakan titik akhir dari sebuah proses, jadi bisa aja disimpulkan bahwa hasil yang baik berasal dari sebuah strategi dan proses yang baik pula, sedangkan jika kita berorientasi pada proses kadang bisa jadi kita dicap manja, meminta proses yang kita lakukan dilihat, padahal bisa jadi kan yang dilakukan itu hanya cari muka? dan lupa melakukan strategi, yah kira-kira begitu kan? *kok makin berasa sotoy gini sih*.

Namun sialnya saya tidak bisa menyalahkan yang serius melakukan prosesnya dengan baik, hal ini menjadi pelajaran bagi saya sebagai orang baru menjadi sebuah partner media nasional, seperti kejadian tahun lalu, jadi begini ceritanya saya dihubungi EO sebuah event seminar yang diadakan sebuah seminar nasional di Solo, beliau bertanya kepada saya partner apa saja sih yang bisa digandeng olehnya untuk event tersebut utamanya stasiun radio, maka saya kirimkan referensi media di Solo agar bisa dipertimbangkan, dan tara akhirnya yang saya sarankan ditunjuk juga, dan ternyata saya juga ditunjuk sebagai media partner via website yang saya kelola dan sekaligus sebagai tiketbox, dan oke saya pun agree.

Damn padahal basecamp saya di luar batas wilayah kota Solo (luar kota), dan partner yang lain mereka umumnya adalah media yang lebih mapan, saya harus banting waktu untuk bisa memasarkan kuota 20 tiket seharga ratusan ribu itu, segera saya mengatur strategi dengan melingkari nomor HP saya yang tercetak jelas disalah satu list tiketbox 1 rim flyer yang sudah saya clip dengan 500 lembar cutting sticker bertulis alamat website saya yang siap disebar, berharap bahwa pembaca mengerti bahwa sebaiknya menghubungi nomor itu, meski saya tidak pernah dipaksa untuk bisa menjual tiket itu, saya merasa punya kewajiban untuk mensukseskan acara ini, dan saya akhirnya harus turun ke jalan (baca:ke bangjo2) bersama rekan-rekan yang sebelumnya sudah saya kaosi kaos official website saya, mendadak saya seperti punya tenaga cadangan berjumlah 4 orang, dan kami benar2 terjun ke bangjo2, dijalan kami harus ramah tamah dengan pengamen, pengemis, penjual koran dll memberikan Flyer yang sengaja saya bundle dengan sticker website saya kepada sopir2 mobil pribadi berplat AD, kadang bagi pengendara bangjo 80 detik itu terasa sangat lama, tapi bagi saya waktu itu terlalu singkat, karena saya tidak berani berebut mobil dengan penunggu bangjo yang senior (pengamen,dll).

Hari pertama cukup banyak yang telfon, menanyakan masih ada tidak tiketnya, dan saya jawab masih kok, saya tanya dari mana mengetahui event ini? dan dijawab dari flyer yang tadi didapat di bangjo/jalan, namun ketika dia tanya dimana mengambil tiket? saya jawab posisi saya yang ada di pinggiran kota, dan terjadilah mereka terdengar kesulitan (baca:malas2an) untuk mencari posisi basecamp kami, saya mencium gelagat problem dan saya tawarkan untuk dikirim ke rumah, tapi ternyata mereka malah makin keberatan dan menanyakan lokasi tiketbox lainnya, dan dengan mencoba ikhlas saya jelaskan lokasi tiketbox lain yang umumnya lebih mudah dijangkau, dan itu terjadi di hampir semua penelepon di hari pertama dan kedua.

Dan akhirnya dari 20 tiket, saya hanya bisa menjual 3 tiket, dalam hati saya sangat malu, namun 3 orang pembeli ini adalah benar-benar bukan orang Solo, yang 2 dari Jogja (60 Km dari Solo) dan yang 1nya lagi dari Batu, Wonogiri (88Km dari Solo) mereka tahu event ini dari Internet, mungkin itulah website saya, mungkin jika yang 3 ini orang Solo mungkin mereka akan lari juga ke tiketbox lain hehe, dan demi mengejar target saya kirim tiket itu via kurir (teman saya sendiri) ke Batu, sedang yang 2 orang itu saya janjikan COD on arrival.

Dari kejadian ini saya banyak belajar, mungkin dalam sosialisasi saya tidak gagal, tapi saya gagal melakukan follow up, bahkan jika berandai-andai, peserta itu ditanyakan darimana mendengar event ini, mungkin saya tidak kalah dengan media yang lain, tapi saya gagal menjual dengan baik, dari situ saya mulai menghargai pendapat bahwa pekerjaan itu ada baiknya berorientasi proses disamping berorientasi hasil.

Bagaimana menurut kalian temans?

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

20 Comments

Zippy

Mending mas, setidaknya masih ada yang laku.
Kemarin saya persis seperti pembeli tiket.
Kebetulan nyari tiket Persipura vs Chonburi tgl. 13 besok.
Dari 2 orang yang saya hubungi, letaknya cukup jauh, padahal masih sama2 di Jayapura.
Akhirnya saya coba cari ke tempat yang lebih dekat :D
Jadi bisa dipastikan, kebanyakan orang akan mencari tiket / karcis yang lebih dekat lokasinya :D

TU : Yup bener, itulah mengapa setrategi dan startegis itu perlu *sotoy lagi*

presyl

kenapa ga dititipkan aja tiketnya deket tempat2 semisal rumah makan atau apa gitu di tengah kota, atau ga di deket jalan2 waktu nyebar flyer triunt? biasanya kita kerjasama sama tempat2 yg mau dititipin tiket gitu, mereka dikasih persenan berapa gitu.

klo saya si lebih berorientasi pada proses, proses itu kan buat belajar, tapi itu kan krn pertama, klo untuk seterusnya si, pasti bisalah buat ngelakuin yg lebih baik lagi :D

TU : Waktu itu rada galau sih, sudah juga kok dititipin ke resto, warnet (flyernya)
tapi tiket tetep saya pegang :(.
takutnya kalau dititipin ke lokasi yg terlalu pasaran, justru merusak nilai brand-nya hehe.

chocky

di jaman sekarang sepertinya hampir di bidang apapun, terutama di bidang sales gitu, banyak yang melakukan jemput bola ya…, alias jauh lebih agresif… :D

paling gak ada proses buat pembelajaran mas… siapa tau lain kali bisa jauh lebih sukses karena sudah lebih pengalaman… ;)

TU : Amiin, semoga lain waktu bisa lebih pinter membuat stategi.
Trims mas.

Kakaakin

Pelajaran berharga banget ya…
Kedua hal mesti diperhatikan ya, proses yang baik tuk mendapat hasil yang mmaksimal :)

TU : Iya, semoga bisa jadi pelajaran buat saya sendiri
dan semua yg baca hehe

Suke

Ya harus ada keseimbangan lah, klo terpaku pada proses mulu, where are we going thru dude?
but, klo terlalu terpaku pada hasil, kita sering dibuat terlalu lelah olehnya…
sotoyjuga.co.id :D

Andhy

Yang bagus itu kalau berorientasi pada hasil namun tanpa mengabaikan prosesnya. Intiya harus efektif dan efisien :D

Ceritaeka

Pengalaman selalu jadi guru yang terbaik :)
Dengan hal ini jd berubah pikiran dan tentu juga berusah lbh baik dikemudian hari ;)
Anw dr dulu saya lbh berorientasi proses. Hasil itu akibat.
Klo hanya berorientasi pd hasil, bisa2 nanti menghalalkan segala cara..

Sya

Saya punya usul Mas, kebetulan bidang saya di event ticketing. Kalau lokasi ticket box jauh bisa disiasati dengan membuat receipt/voucher. Receipt diberikan kepada orang yang telah membayar. Nantinya receipt ditukar pada hari H di tempat seminar.

AriPerwiraCom

memang begitu adanya kok mas, aku dulu juga pernah dan dengan gila aku bayar orang 20rb buat yang bisa jual 10 tiket. Tapi alhamdulillah dari 50tiket laku 20 doang…

Hidup ini begitu indah untuk dinikmati setiap detik perjuangannya (proses) dan kepuasan tak terbayarkan cukup menjadi obatnya (hasil).

Maaf kalo ndak nyambung :-D

Kaget

Yah, yang namanya pengalaman tetap akan mengajarkan kita untuk ‘tidak’ menginjak lubang yang sama kedua kali :) Apapun bidangnya, pengalaman jauh lebih berharga dibanding guru sendiri ;)

Bisnis Oriflame

Follow up itu penting Mas…karena seperti pengingat…belajar dari pemngalaman Mas dech,….biar saya nggak malas melakukan FU

;p

zee

Memang mengenali karakter pembeli itu butuh waktu Tri. Kalau menolak utk diantar, mgkn mereka masih agak ragu akan membeli. Memang jualan itu ga gampang, saya juga termasuk yg kurang mantap urusam direct sells hehee…
Jgn menyerah Tri, besok2 pasti bisa lebij baik.

Amela

Kalau menurut saya sih,, di zaman sekarang proses itu ga kalah pentingnya dari hasil…
Kalau kita lihat hasilnya aja,, kita hanya akan menilai luarnya saja,, tidak bisa melihat potensi di dalamnya…

Seperti pengalaman mas tri tadi,, walau hasil yang dicapai secara kasatmata terlihat kurang memuaskan
tapi kalau dilihat dari prosesnya, usaha mas tri untuk menyukseskan acara tersebut patut diacungi jempol kok

Tetep semangat ya mas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>