Kerja Keras dan Cerdas Itu…

Petang itu pada hari-hari terakhir menjelang masuk bulan ramadhan, ketika saya pulang kampung naik bis,  sekitar 3 kilometer sebelum saya turun, ada seorang yang duduk di samping kursi saya, dia duduk tidak tenang, dia buka tasnya dan mengeluarkan segepok brosur, brosur sepeda motor, aku dengar dengan jelas dia ambil nafas dalam-dalam, berdiri kemudian meletakkan tasnya di sebelah saya, seolah dia yakin tas itu aman di sisi saya, dia berjalan ke depan kemudian berbalik arah melihat ke belakang.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, mas dan mbak perkenalkan saya…..” saya melihat ada wajah gugup di wajahnya, namun suaranya bagus, ya saya termasuk komentator suara orang, dia memperkenalkan diri sebagai sales sebuah dealer motor besar di kota ini, perlahan dia mulai tidak canggung, dia bisa menggabungkan bicara bahasa Indonesia dan sesekali diselingi bahasa jawa yang sopan, dia juga sangat ramah ketika memberikan brosur kredit motor ke semua penumpang bis ini, saya senyum saat dia memberikan brosur kepadaku karena jika aku diam saja bisa-bisa dia ragu duduk disebelahku hahaha.

Selesai, dia duduk lagi di sebelahku, dia langsung memulai pembicaraan “Duh deg-degan banget mas, baru pertama kali ini saya melakukan ini di bis, aslinya saya bagian administrasi, tapi kan jika bisa jual 1 motor aja, saya bisa dapet bonus, lumayan deh buat tambahan,”. Dan saya menjawabnya “Bagus kok mbak, soalnya profesi marketing itu kan bisa dilakukan siapa aja, yang penting bisa nge-jual”, karena bis ngetem perjalanan yang tinggal 3 Km itu menjadi lebih lama, dan saya malah jadi terbawa situasi untuk balik share tentang pengalaman saya yang kurang lebih serupa dengan yang dilakukan mbak sebelah kursi ini.

Dulu saya pernah mengelola website lokal Solo mbak (sekarang pun masih jalan), milik sendiri, suatu hari datang telepon dari sebuah media cetak asal Jakarta yang sedang mencari media partner karena dia akan mengadakan roadshow berupa seminar di kota Solo, saya memberikan informasi media-media Solo baik cetak maupun elektronik yang paling mungkin diajak partnership dan mereka setuju, tak lupa website saya juga menjadi salah satu partner dan dapat jatah jual tiket seminar, ada rasa bangga sih, karena logo website saya muncul di printout banner, poster, leaflet, website, bahkan majalah mereka, namun ada satu konsekuensi agar saya nggak boleh malu-maluin, tanggungjawab itu berupa harus bisa menjual tiket yang harganya cukup mahal itu.

Saya atur strategi, poster, dan leaflet, disitu ada list kontak untuk pembelian tiket, saya  lingkari nomor saya, paling tidak calon pembeli bisa tahu bahwa yg nyebar leaflet ini dari saya, dan dia akan mengontak saya, bahkan biar tidak diremehkan, brosur itu saya gabungkan dengan cutting sticker website saya yang berjumlah ratusan yang nilainya lumayan besar, saya pun berangkat ke beberapa bangjo dan meyebarkannya ke mobil yang berhenti satu persatu, di siang hari yang panas terik, beberapa diantaranya menerima dengan sangat sopan, beberapa menerima  tanpa ekspresi , ada yang menolak, namun ada juga yang bilang kalau saya bikin bangjo macet, meski saya selalu menyebarkan brosur ketika lampu menyala merah.

Malamnya saya menunggu telepon ataupun sms dari investasi sticker yang siang tadi, harap-harap cemas, dan sampai saya terlelap tak ada satupun telepon atau sms yang menanyakan tiket seminar, esok paginya ada telepon masuk menanyakan apakah tiket masih ada, saya sumringah sekali menjawabnya ‘ada’, namun si pembeli minta tiket di antar ke rumahnya yang jaraknya sekitar 50 Km dari kota Solo, tanpa perhitungan saya mengiyakannya, saat itu yang saya pikirkan adalah jangan sampai saya tidak berhasil jual tiket, apapun akan saya lakukan demi martabat website saya, dan sorenya saya mengirim ke rumahnya, menempuh perjalanan gelap dan sepi di pinggiran sebuah kabupaten, agak getir juga kala kesulitan menemukan rumahnya ditengah gelap pukul 7 malam.

Sampai hari H akhirnya saya hanya bisa menjual 3 tiket dari total jatah 10 tiket, ketika berada di lokasi seminar saya bertemu orang lain yang juga sebagai ticketbox, semua tiketnya sold out, wooow dari situlah saya belajar bahwa sangatlah penting arti sebuah jaringan, dan perbedaan antara kerja keras dan kerja cerdas, bisa jadi upaya yang saya lakukan cukup keras, sehingga saya mendadak kulit super gelap akibat terlalu lama panas-panasan, merasakan bagaimana menjual barang dimana saya tidak paham betul target marketnya, dan digasak oleh pekerja cerdas, dimana dia bisa memainkan potensi jaringannya dengan baik.

Dari pengalaman itu pula saya belajar bahwa cerdas itu bukan selalu orang yang mengejar nilai tinggi seperti yang diajarkan guru-guru tradisional demi kebanggaan atas suatu rangking tinggi, yang bersikap manis, menurut yang dulu sudah seperti standar siswa pintar (?), tapi cerdas bisa pula diartikan kritis, peka atas peluang, kreatif, dan berfikir out of the box, seperti yang dilakukan penjual tiket yang sold out tadi, dia paham betul target market tiket itu, karena ada diskon setengah harga bagi nasabah bank sponsor, dia kontak sahabat-sahabatnya yang pakai bank itu, karena seminar temanya seputar wanita, dia kontak hanya yang wanita saja, dan karena temanya wirausaha yang dia cari ya wanita-wanita mandiri, pengetahuan atas segmen tersebut hanya dimiliki orang yang berjaringan luas, dalam 2 hari ke-10 tiket ludes, sedangkan saya…?? ya masih kerja keras di bangjo sepekan penuh!

Pelajarannya adalah, kini saya tak lagi beranggapan kerja keras tanpa cerdas itu efektif, karena bisa jadi itu malah menjadi pemborosan biaya, waktu serta energi, diperlukan kecerdasan strategi, intuisi dan kejelian yang bisa jadi cukup dilakukan di atas meja, namun sekali dia bergerak, justru dampaknya bisa malah membuzz dunia, kerja keras kini tak selalu memeras keringat tapi memeras otak pun bisa jauh lebih penting.

“Jadi mbak, menurut saya mbak sudah melakukan kerja cerdas, jualan motor sama penumpang bis yang bisa jadi nggak punya motor, tapi faktanya saya punya motor tapi males naikin hehe”.

Si mbak diam kemudian manggut2, entah apa yang dipikirannya, baru kenal sudah diceramahi :D

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

1 Comment

Fahrizal Mukhdar

Kerjkerasdan kerja cerdas! Setuju. Kita dituntut mencoba sesuatu yang kita lakukan dengan strategi. Nah itu baru kerja cerdas. Kalau umumnya orang mencapai targetnya dalam 1 bulan, bagaimana caranya kita bisa melakukannya kurang dari satu bulan. Nah proses itu yang akhrinya membuat kita berpikir cerdas… hehe. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>