Chairul Tanjung, Si Anak Singkong

Anak orang kaya yang mampu mempertahankan kekayaan hasil warisan orang tuanya adalah orang yang luar biasa, tapi jika seorang anak berasal dari keluarga sederhana namun kini bisa menjadi seorang konglomerat kaya raya itu adalah hal yang sangat luar biasa sekali, itulah yang terjadi dengan Chairul Tanjung (CT), sesosok pengusaha yang sudah sangat lama saya cari latar belakang dia kenapa bisa menjadi kaya seperti itu, seperti apa titik balik dia, kala itu CT mungkin hanya dikenal di kalangan Para Group dan rekan-rekan bisnisnya, namun kini dia mulai dikenal publik sebagai pemilik CT Corpora yang dulu bernama Para Group.

wanita selalu ada dibalik kesuksesan orang-orang besar.

Saya selalu penasaran bagaimana dia bisa meloncati beberapa level orang kaya hingga kini berada di salah satu bagian level kekayaan paling atas di Indonesia, saya sering melihat orang pintar, cerdas, taktis, konsisten, sabar dan penuh do’a, namun sulit sekali naik level, lha ini CT ini kenapa bisa begitu? Sungguh saya sangat penasaran dengan rahasia yang mungkin sebenarnya tidak pernah dirahasiakannya itu.

Dan baru-baru ini, dirilis sebuah buku yang menguak cerita dibalik layar bisnis CT, sehari iklannya mucul di tivi, saya langsung beli di Gramedia, bukunya cukup tebal, bercerita tentang hidup CT dari awal hingga kini, terlalu banyak cerita yang mungkin sudah banyak blog lain tulis, kali ini saya menulis beberapa poin penting yang membuka mata saya, bahwa CT bisa menjadi seperti sekarang ini bukanlah kerja instant, tapi sebuah ketekunan, doa dan dibantu keberuntungan, dimana dia bisa membuka kemudahan jalan bagi keberuntungan agar bisa menghampirinya.

CT pun juga pusing dengan bisnisnya, dibalik kisah-kisah hebat CT bisa menyulap perusahaan yang sedang sekarat menjadi besar dan menguntungkan, di buku ini digambarkan bahwa mengawali bisnis, mengakuisisi perusahaan tak selalu mudah dan butuh kesabaran ekstra tinggi, salah satunya adalah pengalaman pertama CT mendirikan PT, sebuah perusahaan pabrik sepatu, bagaimana dia menghadapi 3 bulan tiada kabar apalagi pesanan dari konsumen, padahal modal biaya dan pikiran sudah tercurah siang malam, jilakau akhirnya pabrik sepatu itu berubah menjadi pabrik sandal dan berhasil memproduksi ratusan ribu sandal, itulah bukti kesempatan bisa datang dari pintu lain, dimana pintu keberuntungan telah beliau siapkan berupa mendirikan pabrik.

“Apa pula itu Due Diligence

Hal lain yang luar biasa adalah keputusan berani dan beresiko saat dia membeli bank kecil (Bank Karman) yang sakit keras luar biasa parah, saldo merah di BI mencapai Rp. 90 M, dan lebih dari 90% kredit macet semua, terbayang betapa pusingnya membeli perusahaan seperti itu, CT sendiri belum begitu ngerti urusan perbankan saat itu, hal ini tergambar jelas ketika dia disuruh membuat surat permohonan Due Diligence ke BI oleh Alm. Budi Rochadi (Kaur Pengawasan BI), dan CT dalam perjalanan balik mikir “Apa pula itu Due Diligence,” saya tersenyum membaca bagian ini, kini bank itu telah menjadi besar bernama Bank Mega.

“Oke sekarang begini, nanti saya akan buat televisi sendiri”

Mendirikan Trans TV pun juga bukanlah hal mudah, hanya karena tawaran untuk mengambil alih kredit macet, yang asetnya berupa sebuah gedung beserta isi yang berisi peralatan lengkap sebuah studio, CT menyetujui dan akhirnya ketemu lagi dengan kebingungan tentang bagaimana mengelola aset tersebut, Bagaimana pak Ishadi S.K. (Direktur TVRI kala itu) hanya mesam-mesem saat melihat kondisi studio itu, hingga CT melontarkan sebuah kalimat “Suatu saat kalau memungkinkan, kita bikin televisi saja,” kepada pak Is, saat itu, akhirnya perlengkapan studio itu dipakai membuat sinetron, dan alat-alat shooting yang dibeli CT, dan ternyata sinetron yang capek-capek dibuat itu Ditolak oleh pihak TV Swasta, bisa dibayangkan betapa jengkelnya da, dan dalam hatinya bersumpah “Oke sekarang begini, nanti saya akan buat televisi sendiri,”, stasiun TV pun didirikan, dan pembiayaan pun dianggarkan, dalam perjalanannya dana yang dianggarkan ternyata tidak cukup, CT berjuang habis-habisan, bahkan CT harus menomboki 30an miliar per bulan untuk operasional TV, CT sendiri bilang bisnis TV ini seperti bisnis ‘Drakula’ karena nyedot banyak biaya ketika awal berdirinya dulu, kini TV ini dikenal dengan nama TransTV ini.

Itulah sekelumit kisah perjalanan beberapa bisnis CT, masih ada beberapa bisnis lain yang tak kalah seru yang tetap enak untuk dibaca, seperti Akuisisi Trans 7 dari Kelompok Kompas Gramedia, dan pembelian saham raksasa ritel Carrefour.

Namun dari sekian tulisan yang membangkitkan semangat, ada satu yang paling saya suka, yakni bhakti beliau kepada ibunya, bahkan siapapun CT andaipun dia tidak sekaya saat ini pun, saya akan tetap hormat kepada sosok-sosok yang begitu menyayangi ibunya, dibalik gaya kerja beliau yang ala Spartan itu ada istrinya (Ibu Anita) yang senantiasa penuh pengertian menjadi pendamping hidup CT, hal ini meyakinkan saya bahwa wanita selalu ada dibalik kesuksesan orang-orang besar.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

13 Comments

Ichink

Belum beli bukunya, jadi nyimak dari sini dulu.
“modalnya” gede hasilnya pun juga gede, salut juga sih atas usaha gigihnya :D

pety puri

wow ternyata dibalik perusahaan2 yang (kini) hebat itu, ada sosok bernama Chairul Tanjung ya? (baru merhatiin & ngeh).
yup betul walau wanita2 tsb (ibu & istri) mungkin tidak turun tangan langsung dalam bisnis CT, tapi motivasi itu datangnya dari sana ya…

triunt

Bener, CT lah sang Puppet masternya…
Tapi kalo tentang wanita dibalik itu, terus terang saya sendiri belum mendapatkannya :D

pay

belum baca, mau beli tapi sedikit kontroversi dibalik pembuatan bukunya. tapi sepertinya harus beli deh :)

dafhy

Ketika TransTV meliput langsung peluncuran buku itu, saya sudah penasaran dengan buku ini mas. Tapi sayang belum ada di toko buku di Ponorogo

Adiitoo

yang heboh di twitter tempo hari itu, ya?

sepertinya buku ini menarik. melihat seorang CT yang dulunya anak kampung, sekarang menjadi “orang besar”.

berarti di transtv inisial CT dipegang bos dan anak buah, ya? Chairul Tanjung dan Cut Tary.

#ditapuk

Rizal last shandores

Ngga nyangka yak sma pk CT..
Dulu nya dia anak kampung tpi sakrang dia jdi orng yg terkaya

Vickey

wadauh mas,Menyimak Cerita Mas Di Atas Kayak nya Bagus Banget tuh Cerita nya.
Dari Masa Lalu yg Suram Dengam Modal Keyakinan & Doa Restu, Jadi Lah Sosok Seorang Pengusaha.
Kepingin Beli Buku Nya Duit nya Kurang :D

doktertoeloes " swiss van java "

Kata pak khoirul tanjung sendiri sikh dalam suatu acara dengan pelajar/mahasiswa waktu

beranjang-sana ke amerika serikat (maklum lihat youtube) ” Ada skenario besar dalam -

perjalanan karier bisnisnya.Yaa siapa lagi ………..salam (doktertoeloes malang)

Finni

Apa benar CT hanya ‘proxy’ alias perpanjangan tangan dari pengusaha2 tionghoa? (Grup Usaha Salim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>