Gerakan Disiplin Listrik

Sepanjang hidup kita, pernah tidak kita memikirkan efisiensi listrik? mematikan lampu tepat di pagi hari, mematikan tv ketika sudah tidak lagi ditonton, tidak memasukkan benda panas ke lemari es, mungkin kita merasa “ah kita kan mampu bayar!”, tapi syukurlah itu tidak terjadi di keluarga saya, sejak kecil saya terlatih untuk mematikan alat listrik yang tidak perlu, salah satunya adalah menyetrika pakaian sepekan sekali, tidak sehari sekali, apalagi berkali-kali sehari, disiplin yang ditanamkan ayah saya semata-mata agar tagihan tidak membengkak, karena ayah saya adalah jagonya berhemat, beliau tak terlalu berfikir kesulitan PLN untuk mengatur pasokan listrik, tidak kami tidak berfikir sejauh itu.

“Bukan hanya pelajar yang besok ujian yang akan terganggu, listrik adalah sendi penting dalam kehidupan modern, hampir semua masyarakat dirugikan oleh fenomena “mati lampu” ini

Sebaliknya budaya mati lampu waktu saya kecil adalah warna tersendiri di kehidupan keluarga kami, jika tidak mendung dan terang bulan saya waktu kecil hobi sekali nongkrong di depan rumah bersama anak-anak seusia, mungkin itu berkah dikala mati lampu, kami tak perlu repot-repot berpura-pura belajar agar tidak dimarahi kakak saya, ini saatnya libur sementara dari aktivitas baca-baca buku, saya dan teman-teman bisa ngobrol dan main sepuasnya di luar rumah sambil ditemani lilin dan senter, ketika mati lampu dan tidak mendung biasanya di luar rumah lebih terang dan pandangan lebih jelas.

Tapi tak selamanya mati lampu itu berkah, saya pernah tersiksa bukan main dan ayah nampak sebal uring-uringan, saat mati lampu datang tidak tepat pada waktunya, besok pagi saya ada testing (ujian akhir kenaikan kelas), saya harus belajar, tapi PLN mematikan listrik, praktis saya hanya menggunakan cahaya lilin, kondisi yang tidak biasa ini ternyata membuat konsentrasi saya terganggu, saya jadi mengantuk dan tertidur, entah saya lupa apa yg terjadi esok harinya saat saya mengikuti test, yang pasti nilai pelajaran sejarah saya jeblok saat itu, seharusnya malam itu saya bisa belajar mata pelajaran sejarah dengan baik, mati lampu itu menghambat daya hafal saya.

Dari kisah di atas ada pelajaran yang bisa dipetik, PLN dengan alasan gangguan/perawatan alat distribusi listrik bahkan minim pasokan listrik bisa ‘seenaknya’ memutus arus listrik, dan minim pemberitahuan, bukan hanya pelajar yang besok ujian yang akan terganggu, listrik adalah sendi penting dalam kehidupan modern, hampir semua masyarakat dirugikan oleh fenomena “mati lampu” ini, akan tetapi sebaliknya masyarakat sendiri juga terkadang tidak mau tahu dengan kondisi listrik, dengan menghambur-hamburkan penggunaan listrik untuk keperluan yang tidak penting, seperti lupa mematikan lampu, tv, dan lupa mematikan pompa air ketika air sudah penuh, sekilas penggunaan tersebut tak seberapa, toh kita bisa membayarnya, tapi pemborosan ini jika dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia pada jam-jam beban puncak, pusinglah PLN, ujung-ujungnya PLN krisis energi listrik, dan…. “mati lampu”.

PLN perlu dukungan besar bagi seluruh masyarakat untuk bisa berhemat listrik, namun sebaliknya PLN harus lebih intens memperkuat kantong-kantong pembangkit listriknya yang didominasi PLTU, PLTA, PLTD dan PLTG

Kini sudah tahun 2012, tahun ke-67 Hari Listrik Nasional, masihkah ada krisis listrik di negeri ini? saya harus menjawab “masih”, ya karena budaya “mati lampu” masih lestari hingga sekarang, saya kira perkara kelangkaan listrik ini bisa dijadikan refleksi, padahal bulan lalu pak presiden mendorong pengusaha Amerika Serikat untuk berinvestasi di Indonesia, salah satunya adalah pendirian pabrik, boleh jadi pengusaha akan kepincut masuk ke Indonesia, membangun usaha dan cabang usaha di negeri ini, tapi bisakah PLN mencukupi kebutuhan listriknya yang tentu sangat besar itu?

PLN perlu dukungan besar bagi seluruh masyarakat untuk bisa berhemat listrik, namun sebaliknya PLN harus lebih intens memperkuat kantong-kantong pembangkit listriknya yang didominasi PLTU, PLTA, PLTD dan PLTG, Jika PLN serius dengan efisiensi penggunaan biaya yang tidak diperlukan, PLN bisa menyisihkan profitnya untuk berekspansi mendirikan pembangkit listrik lainnya sebagai sumber tenaga cadangan, satu kata kunci yang mestinya PLN sadari, dia adalah pengelola tunggal listrik dalam negeri, tidak ada persaingan harga bahkan tidak ada persaingan kualitas, sejelek apapun kualitas PLN, perusahaan ini akan tetap dipakai.

Proses ini tak mungkin instan, seperti mengedukasi masyarakat untuk hemat energi, dan mengedukasi PLN untuk semakin efisiensi dalam menggunakan biaya operasional termasuk efisien dalam memanfaatkan SDM, tindak tegas pelaku pencurian listrik, sebaliknya PLN juga harus berkomitmen merapikan manajemen SDMnya, mengontrol dari atas hingga bawah, membangun korporasi yang transparan, akuntabel, menuju Good Corporate Governance (GCG), dan saya berharap hal tersebut secepatnya dibabat habis, pencurian listrik bukan hanya kehilangan tapi juga sangat berbahaya karena berpotensi menimbulkan bencana, komitmen untuk merapikan  jaringan distribusi listriknya agar tidak berbahaya bagi masyarakat dan tidak mudah terganggu karena faktor alam, jika persediaan pasokan listrik ideal, listrik akan terhindar dari seringnya terjadi pemadaman, ya karena akan tetap ada pasokan listrik cadangan, masyarakat tentu akan puas, kenaikan tarif dasar listrik pun bisa dimaklumi masyarakat, buktinya sebelumnya masyarakat ada aja yang boros listrik, kenapa mereka harus mengeluh ketika listrik naik?.

Kalau semua sudah ideal nantinya PLN bisa berekspansi untuk memaksimalkan pendapatannya sebagai BUMN, tentunya ini juga menguntungkan bagi negara, dengan menjual energi listrik hingga ke negara tetangga, apalagi jika jaringan listrik Asia Tenggara bisa sepenuhnya tersambung, suatu saat nanti memberikan supply listrik ke negara tetangga menjadi barang lumrah, dengan kesiapan energi ini investor pun tanpa ragu masuk ke Indonesia untuk mendirikan pabrik dan pusat niaga karena pasokan listrik aman, tenaga kerja banyak terserap, anak-anak pun tak perlu nilainya jeblok hanya karena “mati lampu”, mari disiplin menggunakan listrik, dan PLN harus komitmen untuk disiplin untuk mengelola listrik dan merawat pembangkit listrik, apapun harapan kita kepada PLN, itu kembali kepada kita dan PLN sendiri, kita mulai efisiensi dari sekarang.

info : foto lilin di atas diambil tanpa rencana, saat kemarin (16/10) kost saya yang di Solo mati lampu selama 3 jam karena hujan angin.

 

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

14 Comments

shesangdewi

listrik di rmh saya selalu teriak2 tiap kali hmpir habis. smnjak nambah daya, listrik di rubah jd yg pke voucher. kudu hemat…

salam :-)

triunt

wah saya pernah ngalamin tinggal di rumah yg listriknya pakai voucher, kalau pas teriak2 berisik juga hehehe.
tapi bisa lebih mikir buat hemat listrik ya, kereen :D

Zizy Damanik

Disiplin, memang harus dibiasakan di setiap hal. Apalagi listrik ya, kalau saya sih termasuk disiplin agar gak mahal bayarnya bulan depan….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>