Karya Pelangi Goes to NCDA 2013

karyapelangi1

Ini tulisan ketiga saya tentang Karya Pelangi, Malam itu, saya menerima pesan whatsapp dari Anis bu Ketua Karya Pelangi, katanya di Jakarta mau ada acara konferensi disabilitas, dia pengen banget datang tapi aktivitas perkuliahannya yang sudah memasuki babak akhir sedang nggak bisa ditinggal, “Aku minta Sita buat datang mas, mas Triunt mau nggak nemenin?” dan saya langsung bilang “oke”, memang berinteraksi dengan penyandang disabilitas bukan hal yang baru, saya pernah tinggal lama di Yayasan Telenta, menyaksikan interaksi teman-teman Gerkatin Solo, tapi pengalaman saya di Karya Pelangi ternyata masih cukup membuat saya tergagap-gagap ketika bertemu dengan penyandang disabilitas yang belum saya kenal.

Malam itu malam tirakatan Hari Disabilitas Internasional, Anis yang mau ngasih gambaran acara terpaksa nggak datang karena sakit, praktis sebenernya saya sendiri masih cukup blank, acara apa gerangan yang akan saya datangi di Jakarta? malam itu Sita sempat mendapat petunjuk mengenai gelaran acaranya dari pak Koko Prabu IDCC Solo, karena waktu kian dekat saya mulai cari informasi ke Internet, pertama saya langsung buka page facebook IDCC Jakarta, dan langsung deh ketemu poster eventnya yang bernama NCDA (National Conference on Disability Awareness) hmm ini konferensi pertama sepertinya, lokasinya di Pancoran, saya sering sekali ke daerah ini, jadilah saya lega, karena lokasinya cukup mudah dijangkau.

Saya mengambil cuti tanggal 7 untuk acara ini, sedangkan tanggal 9 dianggap sebagai masuk kerja karena senin saya harus keliling sebagian Jakarta untuk tugas kantor, sehari jelang hari H, akhirnya kita berangkat sore harinya naik bis, bareng Sita, mahasiswi PLB UNS yang juga merupakan salah satu panitia Karya Pelangi, di perjalanan banyak sekali cerita yang diobrolkan utamanya tentang Karya Pelangi dan Rumah Hebat Indonesia, bagi saya perjalanan ini adalah perjalanan santai, nggak ada ekspektasi apapun, saya hanya ingin lebih mengenal teman-teman di IDCC, maklum karena Karya Pelangi didukung oleh IDCC sehingga rasanya perlu untuk lebih dekat mengenal mereka, kami ke Jakarta sebenarnya sangat ingin berbagi cerita inspirasi yang ada di Karya Pelangi, saya selalu bersemangat dengan buku ini, mengapa buku ini dibuat, untuk siapa buku ini diterbitkan, dan banyak sekali kisah seru tentang buku ini yang bisa dibagi.

Sampai di Jakarta agak kesiangan, segera kami melakukan olahraga pagi dengan tas tebal di pundak, misi pertama adalah sarapan dan mandi, tempat sarapan dan mandi masih berada di satu lokasi di daerah Jatinegara, selanjutnya kami meluncur ke USBI (Universitas Siswa Bangsa Internasional) venue acara yang kami tuju, dan turun dari taksi kami harus mengalami insiden pertama, yakni X-banner yang kita bawa jauh-jauh dari Solo ketinggalan di bagasi, nilainya nggak seberapa, tapi jerih payah Sita yang membawanya sejak dari Solo cukup membuat saya mengerti kalau pastilah dia sangat kecewa, tapi kami tetep harus lanjut, segera kami masuk ke USBI, meletakkan sekardus buku Karya Pelangi lalu masuk ke lokasi konferensi.

Dan datanglah seorang panitia, menginformasikan kalau ada taksi nyariin saya di depan, mata saya terbuka, senyum saya terkembang, segera saya berdiri dan menemui taksi itu, saat melihatnya, pak sopir nampak tersenyum kemudian membuka pintu bagia kemudi, mengeluarkan sebatang bungkusan warna hitam, hah X-bannernya Sita kembali, “Terimakasih sekali pak, Namanya bapak siapa?” ucapku, dan dia segera masuk ke pintu armada taksi Bluebirdnya sambil menjawab “Sudirman”, dia nggak minta tips, hmm barangkali tips yang tadi saya berikan sudah membayarnya lunas, atau mungkin memang dia salah satu sopir taksi berintegritas di Jakarta ini? hebat! Saya masuk kembali ke USBI, meletakkan X-banner itu di stand Karya Pelangi dan masuk lagi ke ruang konferensi, kulihat Sita melihatku penasaran, dan dengan secara oral ku bilang “x-bannermu udah balik”, lalu senyumnya mengembang.

Sekedar menggambarkan situasi saat itu, lokasi konferensi diatur sedemikian rupa kursinya, sehingga penyandang disabilitas dan bukan penyandang disabilitas bisa duduk berselangseling, tadi malam saya sudah mengeceknya di akun twitter IDCC jadi saya sudah nggak begitu surprise lagi, barangkali diharapkan kami bisa saling berinteraksi, keren kan konsepnya? saya datang cukup telat, tadi Rully dari DVO whatsapp mulu ketika saya masih di jalan, ternyata doi sudah standby di depan jadi translator bahasa Isyarat, dia emang keren.

Waktu saya datang, ada sesi Prof. Irwanto, beliau memakai kursi roda, dosen FISIP di UI, beliau share banyak hal, reflektif, salah satu yang membuat saya tertegun adalah cerita beliau tentang keluarganya yang sangat memotivasi, ada mbak Cucu Saidah juga, saya mengenalnya ketika beliau membuat petisi online www.change.org/SupportSaidah yg berjudul “Pak Emirsyah Satar, Hapuskan Surat Pernyataan Bagi Penyandang Disabilitas” , petisi itu mendapat respon cepat dari pihak Garuda selaku maskapai yang dituju dan menghasilkan penghapusan pemberlakuan Surat Pernyataan bagi penumpang penyandang disabilitas hari itu juga. kebijakan ini juga akan menjadi revisi SOP Garuda yang baru.

Sesi berikutnya ada pak Sabar Gorky, beliau sudah tak asing di telinga saya, karena beliau pun menulis endorsment di buku Karya Pelangi, beliau adalah sosok inspiratif bagi saya untuk tidak mudah mengeluh, beliau adalah motivator hebat yang tak hanya bisa beretorika tapi aksinya yang kadangkala terhitung nekad selalu membuat saya berdecak kagum, bagi yang belum mengenal pak Sabar Gorky, beliau adalah penyandang tuna daksa, tapi meski memiliki keterbatasan, bukan dijadikannya sebagai penghalang untuk untuk unjuk kebolehan, beliau pernah mendaki Gunung Everest, bahkan direncanakan esok harinya beliau akan mendaki puncak monas, wow.

Acara hari ini berakhir hampir pukul 18.30 WIB, dan sebagai hasil dari konferensi ini dideklarasikan “Deklarasi Pancoran”, hasil dari diskusi paralel para peserta, diskusi ini lebih menekankan hak-hak penyandang disabilitas dalam hukum, pendidikan dan pekerjaan, pada kesempatan itu saya masuk pada diskusi hukum.

Kesan yang melekat adalah penutupan dari mas Valentino yang saya pribadi memberinya judul ‘Jangan Manja’, saat itu saya bersyukur dan yakin bahwa negara ini dibangun oleh orang-orang hebat, orang orang itu bukan pemerintah saja, tapi masyarakatnya yang peduli mengerti dan beraksi, mas Valentino seperti membakar semangat kami, bahwa kami ‘jangan manja’, jangan suka menuntut, jangan suka mengeluh, mulai dari diri sendiri, usai acara kami masih sempat berfoto-foto, ketika melihat Habibie saya langsung ingat pesan Anis, kalau Sita mesti ketemu sama Habibie Afsyah, dan malam itu kami malah sempat foto bersamanya, bertemu dengan bu Endang ibunya Habibie, bu Lela Wonggo, Ta Lin beserta Sam dan masih banyak lagi.

fotobareng karya pelangi

Malam itu saya pulang sendiri, Sita menginap di kost Arsy, LO saya, saya pulang santai dengan busway, di halte favorit saya, Pancoran (atas), dan sampai di hotel jam 10 kurang, setelah mandi, dan sedikit menata barang, saya segera terlelap, dan bangun jam setengah 3, saat itulah saya dihinggapi kelaparan yang teramat sangat, saya mencoba keluar hotel cari makan tapi nggak ketemu tempat makan, akhirnya saya mampir ke minimarket buat beli roti dan beberapa botol persediaan minuman, saya segera balik ke hotel, ada beberapa email kerjaan yang mesti segera difollowup, dan menulis surat tentang disabilitas yang kemarin sudah diwanti-wanti oleh Arsy, jam setengah 6 saya cabut ke halte Galur, jakarta pagi ini masih cukup lengang, pasti sangat berbeda jika pagi ini adalah besok, bahkan saya bisa duduk di bis, tujuan pagi ini adalah ke monas, saya memilih berangkat langsung dari hotel, karena jika harus ke Pancoran untuk berangkat bersama rombongan bisa butuh waktu sejam dari sini, turun di halte Istiqlal dengan mudah saya mencapai monas, saya BBM Sita ternyata dia masih dalam perjalanan, saya pun santai berjalan di sekitar monas, ada acara seru pagi ini, tentang keraton sedunia, dengan kamera saya coba abadikan secukupnya, saya juga melihat 3 buah tali sudah siap dari puncak Monas hingga bawah, barangkali tali itu yang nanti dipakai pak Sabar, ya seperti yang sebelumnya saya tulis, pagi ini pak Sabar direncanakan mendaki Monas dalam rangka memperingati hari disabilitas Internasional.

Sita BBM jika dia sudah sampai, ternyata dia memasuki Monas melalui titik Bank Indonesia, sisi yang berlawanan dari posisi saya, sehingga saya harus menyeberang, tidak mudah menemukan rombongan berkaos hitam ini, karena posisinya yang ada di dalam hutan kota di pinggir pagar monas, acara hari ini dikonsep belajar Bisindo, bahasa Isyarat yang telah menjadi bahasa Ibu teman-teman tunarungu, membentuk lingkaran-lingkaran kecil, guru kelompok kami adalah Andrew dan Darra, berbeda dengan kelompok lain yang gurunya begitu runtut mengajar, kedua guru kami ini selalu bikin dahi saya berkeringat segede biji jagung, karena mereka berdebat mulu dalam hal bahasa yang dipakai, makanya sesekali mbak Winda turun tangan buat mendamaikan guru kami yang kontroversial ini, namun demikian rasa-rasanya kelompok kamilah yang paling seru.

lingkaran

Sayang sekali pak Sabar tidak jadi memanjat Monas karena kendala teknis, jadi panitia mengarahkan untuk belajar menyanyikan Mars IDCC menggunakan bahasa isyarat, cukup seru juga pada sesi ini, lalu usai makan siang kami berfoto bersama dengan monas sebagai latar belakang, sesi ini sekaligus sebagai penutup rangkaian acara NCDA 2013, kami harus berpisah, salah satunya dengan Ijunk mahasiswi UII Jogja yang hanya dengan dia kita bisa ngobrol Jawa, saya juga berpisah sementara dengan Sita, dia akan bermalam di Bekasi di sekolah berkebutuhan khusus yang diasuh oleh Rully, saya masih harus berburu tiket bis untuk esok sore.

Di NCDA seperti menemukan kembali masa-masa mahasiswa saya, masa-masa ngeblog saya, masa-masa saya bisa bertemu banyak orang yang bukan urusan pekerjaan, menemukan teman-teman seminat dan setujuan, semoga deklarasi Pancoran ini menjadi tonggak, bahwa negeri ini akan berjalan menuju negara yang ramah bagi penyandang disabilitas, tentu membutuhkan proses dan dukungan, ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja, masyarakat harus turut serta mendukung langkah ini, jangan manja, jangan mengeluh, salam Karya Pelangi.

Jangan lupa baca Karya Pelangi, available in Gramedia Bookstores, Toko Gunung Agung, Togamas, and some bookstores near you.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

1 Comment

dedekusn

Acara yang super keren, pastinya sangat berkesan. ‘Angkat topi’ juga buat Pak Sudirman, semoga masih banyak supir taksi lain yang masih menjunjung kejujuran. Sempat ketinggalan x-banner hingga akhirnya kembali, sesi Prof. Irwanto, dll. pastinya kegiatan tambah berkesan.
Salam Sukses!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>