Kemenangan Sejati

Ketika takbir tahmid dan tahlil bergema di malam ini, masing-masing orang memiliki fokus pikiran yang berbeda, ada yang sudah tak sabar memakai baju barunya, ada yang ingin kumpul rame-rame takbiran di masjid, ada yang malah konvoi jalan-jalan ke suatu tempat dan lupa takbir, ada yang masih sibuk cari amil zakat karena lupa belum zakat, ada yang masih aktif cari rezeki untuk memenuhi membelikan baju baru anaknya, ada yang menyelesaikan kue nastar buat besok, ada yang hunting duit gress buat sanak keluarga yang kecil-kecil, saya sendiri dulu ingin segera kumpul rame-rame di masjid dan bertakbir bareng-bareng.

Dulu sekali waktu saya masih kecil sore hari saya sebelum ngaji sudah sibuk membuat obor, dan malamnya masjid ramai sekali dan sehabis isya’ kami pun konvoi ke sebuah lapangan, bertemu dengan jamaah masjid lain, membentuk koloni-koloni obor yang sangat indah, ada obor, lampion, serta lampu petromaks, malamnya kami bersama sahabat sebaya sekampung tidur di masjid, menghabiskan stok makanan yang ada sampai pagi, praktis suara takbir dari masjid itu tak pernah berhenti sampai pagi.

Namun situasi itu tak bertahan hingga sekarang, banyak sekali perubahan yang merupakan sebab akibat dari suatu kondisi, dulu waktu saya masih kecil pemuda-pemuda pun masih jarang yang punya motor, sehingga mereka lebih suka menghabiskan malam idul fitri di masjid, kini pemuda lebih suka touring di luar, atau lebih asik di rumah nongkrongin tv karena tv sekarang menyuguhi tayangan spesial di malam takbiran, atau juga karena minyak tanah mahal jadi malas buat bikin obor, ya zaman berubah dan telah merubah habit di desa yang permai ini.

Sebenarnya saya sebelumnya masih konsisten untuk datang ke masjid sejak Isya’ dan melanjutkan takbiran, tapi kini sepi, hanya ada anak-anak disini, tahun lalu pada malam takbiran tak lagi saya lihat keramaian warga yang berkumpul di masjid kebanggaan kami ini, tinggal segelintir warga, hanya beberapa bapak-bapak yang masih setia bergantian pegang mikrofon untuk takbiran, malam ini saya sudah memutuskan untuk bertakbir dengan sederhana saja, mengajari keponakan untuk bertakbir bersama, alhasil kami nongkrong di depan rumah sambil bertakbir berkali-kali, mengajarkan memuji kebesaran Tuhan, dari sini saya menemukan kebahagiaan baru itu, senang rasanya bisa takbir bergantian dengan keponakan.

Pada malam ini saya berusaha memahami esensi dari takbiran ini, malam ini adalah malam kemenangan itu, malam final dari hari-hari yang penuh dengan upaya menahan diri, karena puasa yang sebenarnya bukan hanya menahan lapar dan haus, bulan ramadhan juga merupakan bulan perlombaan, menjadi rajin ke masjid, dan kejar target tilawah, bagi yang berusaha fokus menjalani Ramadhan ini secara maksimal mungkin malam ini merasakan arti dari sebuah kemenangan itu, sungguh rasanya cepat sekali ramadhan pergi.

Tadi siang saat saya keluar sebuah gerai ATM di kompleks tempat belanja pakaian di sekitar pusat kota Sukoharjo, saya berhenti agak lama di tempat itu karena jalanan padat sekali, tepatnya di tepi sebuah trotoar yang mepet dengan toko pakaian itu, datanglah seorang bapak dengan sepeda federal tua dan memboncengkan anaknya di depan, dia parkirkan sepeda itu di depan toko ini, pakaian mereka sederhana, kalau tidak salah sendalnya sendal jepit yang sudah tipis, mereka masuk ke toko pakaian ini dan akhirnya ku tahu dia ingin membelikan baju baru buat sang anak, namun saya dengar dengan jelas sang bapak bicara dengan sang anak “Lha bayarane bapak lagi mudhuk, iki wae nek ra ditungguni yo rung dibayar” (bayaran ayah aja juga baru dibayar, ini aja jika nggak ditungguin ya belum dibayar), wajah ayah itu sebenarnya datar-datar aja, sang anak pun juga demikian, namun saya mencatatnya ini luar biasa, sang ayah demi ‘bakdan’ sang anak, bersedia nunggu bayaran di tempat majikan, pasti bukan main bahagianya beliau jika melihat sang anak begitu sumringah memakai baju baru hasil jerih payahnya ini, bahagia itu sederhana, saya mencatatnya ini adalah salah satu kemenangan itu.

Kini saya punya padangan baru, kemenangan sejati ini tak hanya dinilai dari seberapa uang THR yang kita dapat, bukan pula sesederhana puasa kita yang tidak bolong-bolong, kemenangan sejati itu adalah kebahagiaan bahwa kita telah menyelesaikan ramadhan ini sebaik-baiknya, sejauh yang kita mampu, lantas malam ini mengucapkan takbir, tahmid dan tahlil dengan sepenuh hati, diresapi artinya, ada rasa haru bagaimana Tuhan telah mempertemukan kita dengan bulan yang penuh berkah dan disampaikan hingga Syawal, dan malam ini meyakinkan diri bahwa kemenangan itu memang benar milik kita, indah sekali, semoga Idul Fitri ini kita meraih kemenangan sejati itu, Aamiin, saya belum pernah merasakan Idul Fitri seharu ini :)

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maaf Lahir Batin, Taqabalallahu minna wa minkum.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>