Kunjungi Jawa Tengah 2013, Lebih dari Sekedar Bersahabat

Tinggal di Provinsi Jawa Tengah yang merupakan pusat kebudayaan jawa membuat saya tertanam adat-adat dan gaya hidup orang jawa, kecintaan saya terhadap status saya sebagai wong jawa telah lama tertanam, menyukai langgam jawa, keroncong jawa hingga campursari, tari jawa, bahasa jawa, wayang jawa hingga obyek wisata budaya jawa yang umumnya berada di wilayah Jawa Tengah. Alasan itulah yang membuat saya pelan-pelan mulai membuat panduan wisata online untuk beberapa kota di Indonesia termasuk pula Semarang serta Solo agar bisa membantu mempromosikan wisata Indonesia di mata Internasional.

“Untuk membentuk Bali menjadi kawasan MICE pun memerlukan waktu 30 tahun.”

Bicara Jawa Tengah tak habis hanya digambarkan dengan Borobudur, Keraton Kasunanan Surakarta ataupun Sangiran, namun juga diperlukan mempelajari tentang bagaimana sudut pandang mereka sebagai orang non Jawa Tengah untuk tertarik berkunjung ke Jawa Tengah. Seperti kuliner, budaya, mode, bahkan memaksimalkannya dalam sudut pandang bisnis sekalipun, sekedar mengingatkan bahwa berdasarkan Majalah Tamasya edisi Maret 2012 mungkin tak banyak yang tahu kalau 5 dari 7 warisan budaya Nasional yang mendunia dan diakui oleh UNESCO bisa ditemui di Jawa Tengah, kelima warisan tersebut adalah Batik, Wayang, Keris, Borobudur dan Sangiran.

Jika kita tidak bertanya mungkin kita tak akan pernah tahu bahwa ternyata banyak pengunjung yang sangat menikmati aktifitas membatik, memegang canting panas dan mencoba menulisnya di kain batik kemudian membawanya pulang untuk oleh-oleh di rumah, menikmati sedapnya nasi liwet Solo di pagi hari sambil ditemani keroncong jawa live di sudut kota yang mulai sepi, mendaki gunung Merbabu yang bertingkat tiga, tidur di padang sabana yang luas ditemani sensasi melihat pesawat yang terbang lebih rendah dari posisi kita tidur, menikmati nostagia masa lalu dengan menumpang kereta kuno di Museum KA Ambarawa, Menyaksikan keindahan alam bawah air dengan bersnorkeling di kepulauan Karimunjawa, melepas anak penyu di Teluk Penyu Cilacap, atau kembali ke masa purbakala di situs warisan budaya dunia Sangiran.

“wisatawan tidak hanya butuh hotel bagus dan nyaman. Mereka butuh pengalaman-pengalaman rohaniah yang membekas sangat dalam pada diri wisatawan”

Seperti belajar mengapa orang mengunjungi Bali dan mengapa mengunjungi Jogja, aura karakter daerah wisata yang khas sangat berpengaruh terhadap rasa keingintahuan calon pengunjung, mengutip ungkapan Pak Herry Zudianto Walikota Yogyakarta di Majalah Venue edisi Januari 2009 “Fasilitas untuk kebutuhan akomodasi yang bertaraf internasional memang banyak terdapat di Yogya, tetapi wisatawan tidak hanya butuh hotel bagus dan nyaman. Mereka butuh pengalaman-pengalaman rohaniah yang membekas sangat dalam pada diri wisatawan”, mencitrakan Jawa Tengah dengan membranding bahwa Jateng adalah pusatnya Jawa bisa mengesankan bahwa Jateng adalah asal muasal suku bangsa terbesar di negeri ini, Karakter Solo yang lebih njawani pun bisa diangkat sebagai salah satu tujuan utama, Semarang yang lebih heterogen dengan obyek wisata yang Multietnis dan agama bisa dijadikan potensi unggul untuk promosi wisata yang lebih variatif, Masterpiece Batik pun bisa jadi jagoan oleh-oleh dari kota Batik Pekalongan dan tentu tak diragukan lagi Borobudur dan Prambanan tetap menjadi icon wisata yang wajib untuk ditonjolkan.

Program Visit Jateng 2013 sudah di depan mata, waktu Jateng untuk bersiap-siap sudah tak lebih dari 1 tahun lagi, saya akan kutip Slogan pada website saya “Get Lost in Diversity” yang maknanya kira-kira adalah Menghilang di keberagaman, tentu bukanlah cerita berwisata dan nyasar kemudian bingung dan tidak bisa menikmati perjalanannya karena panik, menghilang disini lebih ke wisata ‘blusukan’, meninggalkan pakem bahwa wisata harus ke obyek ini-itu, bayar tiket ini, naik travel itu dan pakai guide ini menginap disitu,  berikut itinerary yang monoton yang nampak membosankan.

“Senyasar-nyasarnya mereka, akan lega di perempatan jalan”

Mengapa tak kita biarkan saja mereka bebas jalan-jalan, bersepeda, naik becak, beli batik di pengrajin langsung? Hal ini bisa disiasati dengan papan “Where are You?” di setiap sudut pedestrian perempatan jalan dan beberapa tempat vital seperti terminal bis, mall, shelter BRT dan stasiun kereta api, papan tersebut berisi peta yang memberi tanda posisi dimana papan tersebut berada, Peta dibuat semenarik mungkin dan mudah dipahami dan multi bahasa, berisi lokasi lokasi belanja, wisata, olahraga, kantor polisi, shelter Bis, stasiun kereta api dan lain-lain, simpel namun informatif dan tentunya harus awet minimal untuk jangka 5 tahun dan selalu dianggarkan untuk diperbarui berkala, bisa dibayangin apa yang terpikir pengunjung nanti? “Senyasar-nyasarnya mereka, akan lega di perempatan jalan”, betapa mereka menikmati hilang namun tidak cemas dengan aktivitas “nyasar” mereka.

Dari papan “Where are You?” ini bisa kita buat versi IT-nya, pastinya Disbudpar tahu, bahwa banyak programmer dan developer hebat di negeri ini, ajak mereka berkompetisi untuk membuat Aplikasi Mobile “Where are You?” (versi Semarang, Solo, Banyumas, dan sebagainya), ya semacam aplikasi navigasi lengkap yang memberikan informasi lokasi menarik dan penting di sekitar posisi pemegang perangkat mobile (pengunjung), sistem ini sudah dipakai efektif di negara tetangga kita Singapura dengan program “YourSingapore” nya.

“Dengan perlakuan khusus, sikap bersahabat, fasilitas yang memadai, dan harga-harga yang make sense, mereka akan bilang ke teman-teman dan saudara-saudaranya ‘Eh Manado itu bagus, tidak kalah dengan Bali’ kalau sudah begitu, berdatanglah turis ke Manado”

Membekali masyarakat dengan budaya DARWIS alias “Sadar Wisata” sangatlah penting, buat apa jika kita berpromosi tentang asiknya “Wisata Nyasar” eh di ujung jalan mereka dikompas preman, waktu naik becak harganya ‘dikebruk’ pak tukang becak, waktu beli batik harganya mendadak selangit, turun dari pesawat malah diperas porter, waktu beli pulsa harga Rp. 10.000 mendadak jadi Rp. 30.000, waktu naik taksi argo mendadak mati dan sopir bikin tarif seenak jidat? Seandainya harga dibedakan sebaiknya jangan terlampau jauh, apalagi naik hingga 100%. Mengajari masyarakat sadar wisata tak lepas dari contoh yang diberikan pemerintah, apa jadinya jika obyek wisata HTM untuk pengunjung lokal Rp. 25.000 dan untuk pengunjung asing jadi Rp. 60.000, jangan- jangan penjual kacang di depan obyek wisata harga lokal dijual Rp. 5000 harga internasional bisa jadi 20.000 dong?? Pemerintah, masyarakat, pelaku wisata (ASITA & PHRI), aparat keamanan, dan lain sebagainya sangat berperan penting dalam mensukseskan branding Wisata. Mengutip dari kata-kata I Ketut Salam di Majalah Venue edisi Mei 2011, beliau adalah managing director PactoCovex yang menjadi Organizer “World Ocean Conference” di Manado bahwa “Dengan perlakuan khusus, sikap bersahabat, fasilitas yang memadai, dan harga-harga yang make sense, mereka akan bilang ke teman-teman dan saudara-saudaranya ‘Eh Manado itu bagus, tidak kalah dengan Bali’ kalau sudah begitu, berdatanglah turis ke Manado” ungkapan ini tercetus ketika dia tercengang melihat Hotel di Manado telah menaikkan harga kamar hingga 200% 3 bulan menjelang konferensi, ya itu bisa jadi pelajaran juga bagi Jawa Tengah, dikisahkan Ketut bahwa untuk membentuk Bali menjadi kawasan MICE pun memerlukan waktu 30 tahun.

wisataimpianDan tidak melulu tentang wisatawan asing, jumlah wisatawan lokal yang tentunya lebih banyak dari jumlah wisatawan asing harus juga diperhatikan, bahkan difasilitasi untuk menghasilkan promosi domino dari mulut ke mulut, beriklan di media cetak dan elektronik nasional adalah salah satu pilihan menarik, namun sesuai latar belakang saya yang merupakan blogger, saya ada beberapa ide yang mungkin bisa diterapkan, belajar dari program Aku Cinta Indonesia (ACI) yang dibuat detik travel cukup membuktikan bahwa banyak pecinta traveling, travel blogger sangat menikmati menulis sambil jalan-jalan hemat bahkan gratis, mengapa tidak diseleksi saja mereka untuk diberikan kesempatan berwisata gratis di setiap sudut Jateng? Bukankah Pemprov bisa menyiapkan akomodasi layak dan gratis di setiap kabupaten dan kota di Jateng ini? Kita biarkan mereka berpetualang bebas di setiap titik di seluruh penjuru Jateng dan mengajak mereka menulis di blognya dan di web resmi Visit Jateng, kita tempatkan bertahap, 6 orang dalam 1 tim selama 2 hari setiap pekannya di lokasi yang berbeda-beda, bisa dibayangkan ada berapa tim dalam 1 tahun dan berapa artikel yang dihasilkan? Dan popularitas wisata Jawa Tengah bisa terangkat dengan sendirinya di internet, semakin banyak referensi di internet, semakin mudah pula pengunjung petensial yakin bahwa Jateng adalah destinasi yang menarik.

Di alinea terakhir saya ingin kembali bertanya pada diri sendiri, pantaskah Jateng dikunjungi? Saya dengan sangat yakin akan menjawab “pantas”, namun mudahkah Jateng dikunjungi? Hmm, sepertinya kita harus sedikit mengerutkan dahi, pernahkah kita menghitung bahwa orang Jakarta berwisata ke Kuala Lumpur bisa jadi lebih murah daripada ke Karimunjawa? Sepertinya pemerintah Jateng harus lebih berfikir keras bagaimana agar banyak maskapai penerbangan tujuan Semarang dan Solo bisa lebih intens memprogramkan tiket promo, karena diyakini atau tidak tiket promo maskapai penerbangan sangat berpengaruh pada jumlah wisatawan yang datang, bahkan pengalaman saya pribadi selama memandu beberapa wisatawan dari Malaysia yang ke Solo salah satu alasan mengapa mereka ke Solo juga disebabkan oleh tiket promo maskapai yang sangat murah, setidaknya masih banyak orang yang ingin berwisata tamun tetap memikirkan penghematan. Semoga program Visit Jawa Tengah bukan hanya program gertakan semata, namun juga merupakan tonggak besar bahwa Jateng adalah daerah tujuan wisata paling utama di Indonesia, tentunya akan banyak yang diuntungkan ketika brand ini nanti terbentuk, mari ajak mereka berkunjung ke Jawa Tengah, pastikan pengunjung kita akan membawa pengunjung yang lebih banyak lagi di lain kesempatan.

Visit Jawa Tengah 2013 by Moyadruft from triunt on Vimeo.

Let’s come to Visit Central Java, More than Friendly!

Foto sebagian merupakan koleksi pribadi dan dokumentasi travelbuck.net, terkecuali Foto Pantai Kartini [1] dan Sangiran [2]. Video dari Moyadruft

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

11 Comments

HeruLS

Pertanyaan lainnya, siapkah pemerintah Jateng untuk dikunjungi?
Dengan kriminalitas yang tinggi, lingkungan yang kotor, siapa sudi datang.
Tengoklah halaman kriminal surat kabar, tengoklah kali dari atas jembatan.
Maka, bersoleklah, jangan kecewakan lagi para pengunjung.
Tirulah, kesadaran masyarakat Bali, bahwa tidak ada kesempatan kedua. Mereka pilih untuk menyadari bahwa pengunjung datang sekali untuk seumur hidupnya, dan akan menyebarkan apa yang mereka lihat dan rasakan selama kunjungan.

jarwadi

oh iya, mudah mudahan ada baca komentar saya ini, bukan pemilik blognya ya, semoga satpam dan security di canti borobudur berganti seragam, bukan seragam standar satpam, tapi sebaiknya menggunakan seragam yang lebih ramah seperti setelah safari atau batik, agar tidak menciptakan kesan candi borobudur itu tidak aman, saya pernah menulis di sini:

http://jarwadi.wordpress.com/2012/02/14/ke-borobudur/

SlameTux

Wah senang rasanya apabila bisa mengunjungi tempat-tempat pariwisata yang ada di Provinsi Jawa Tengah terutama yang telah disebutkan diatas… Go Visit Jateng 2013 :)

afit santosa

wah wah wah, kampanye mas? tempatnya asik-asik, besok saya kesana ah, sama ke karimunjawa buat liat hiu…..nanti mampir juga ke tanjung mas sekalian…..

merbabu ndak pernah sampe puncak, meski berkali-kali kesana, ndak jodoh kali ya?

niee

baca dua komentar teratas rasanya jadi ragu buat ke jawa tengah >.<

satu-satunya propinsi yang belum aku kunjungi di pulau jawa itu jawa tengah loh.. aku udah pernah ke jatim, jogja, jabar, banten dan jakarta.. hmm mudah2an ada kesempatan ke jateng gartis :P

rio (eko prabowo wannabe)

masalahnya, ini visit jawa tengah, apa jawatengah agak nimur?

masa yang di bahas cuma jawatengah ketimur saja,

mana dieng(masa dieng ga masuk)? mana pantai ayah,menganti (hawaii wannabenya indonesia)? mana karangsambung( geowisata terlengkap di dunia)? mana gua petruk? mana baturaden(paling tinggi curah hujanya di indonesia?)mana nusakambangan (satu-satunya habitat bunga wijaya kusuma di jateng)mana pula guci,dll

tapi semuanya aksesnya sulit sih wkkwkwkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>