Mereka Saja Bisa

Seumur-umur saya hidup, jarang sekali berinteraksi dengan penyandang difabel, nama difabel merupakan kependekan dari Different Ability yang dalam bahasa Indonesia bermakna kemampuan yang berbeda, Tuna rungu, tunanetra, tunadaksa, tunagrahita, dan Tunalaras merupakan bagian dari difabel, pada saat saya masih kecil kepekaan saya terhadap difabel sangatlah kurang, pernah waktu kecil dulu sangking jarangnya saya melihat orang buta, saya dan kawan-kawan waktu kecil dulu justru ngeledekin dan ngerjain, tak tanggung-tanggung lho,kami menaruh batu-batu lumayan gedhe di depannya, dan ketika dia tersandung, kami malah ketawa-ketawa, jahat sekali ya, iya tapi itu dulu.

Doni, mendapat medali Perak

Tapi bagaimanapun seiring bertambahnya usia dan lingkup pergaulan, seringkali terpetik pelajaran-pelajaran berharga ditambah nasehat orang tua, yang akhirnya membawa Triunt yang mulai beranjak gede menyadari bahwa kita tak pantas untuk merendahkan penyandang difabel.

Pelajaran yang terbaru datang ketika saya akhirnya masuk dalam keluarga besar Rumah Blogger Indonesia, sebuah rumah yang juga merupakan tempat bernaung Yayasan Talenta yang dipimpin Pak Sapto Nugroho, disini saya mendapat hikmah baru, bahwa Difabel tidak selamanya rendah diri seperti yang saya fikirkan selama ini, saya pernah ngobrol dengan mas Pono, dia adalah penyandang Tuna Daksa yang juga tinggal di rumah ini, saya beruntung pernah diajak curhat olehnya tentang awal-awal dia harus menyadari bahwa kakinya cacat, down mungkin itulah yang dia rasakan, dan kita pasti bisa membayangkannya, bagaimana rasanya menyadari kenyataan pahit bahwa kaki kita tidak bisa dijalankan sebagaimana normalnya. Dalam keseharian kini Mas Pono hidup normal, bahkan sangat normal, bagaimana tidak? dia bisa sembahyang rajin, dia bangun pagi-pagi disaat kami-kami yang beranggota gerak lengkap saja masih malas-malasan bangun, berangkat kerja pukul tujuh, dan jam segitu saya baru mulai mandi, dia berangkat sendiri dengan santai dengan motor roda tiganya ke Solo Baru yang jaraknya sekitar 5 Km dari RBI, dia masih sempat untuk mengepel lantai basah akibat cipratan air kamar mandi, Sebelum kami menyalakan mata, dia sudah sibuk membersihkan sampah-sampah dan membakarnya di ujung gerbang, dia hilir mudik memunguti sampah dengan motor roda tiganya, sampai disini cukupkan untuk bisa mengatakan “Saya Kalah?”

Widodo sedang asik klak-klik mouse

 

Doni, badannya kekar, wajahnya tidak begitu ramah menandakan kalau dia tidak hobi basa-basi, tapi siapa sangka bahwa dia adalah atlet binaan timnas untuk tampil dalam kompetisi ASEAN Para Games di Solo kemarin? OOT Sebentar, saya kebetulan adalah admin akun twitter @KabarSolo, akun ini pernah mentwit tentang atlet ASEAN Para Games, dan dari beberapa respon follower, saya dibuat geleng-geleng bahwa Kompetisi ini dibuat lelucon, ada yang meremehkan bahwa “kalo cuman Para Games, aku udah pasti menang”, mungkin niatnya melucu, tapi mention itu sama sekali tidak lucu, bersyukur ada beberapa akun yang merespon twit tersebut dan menyatakan ketidaksetujuannya atas twit tersebut.

Widodo, seorang penyandang tunadaksa, kedua tangannya hanya sampai di lengan saja, tapi kamu pasti tertegun mendengar dia jago berenang? dia bisa menggunakan komputer dengan dua lengan tersebut, klik sana-klik sini, geser-sana geser sini.

Waktu melihat ASEAN Para Games, saya yakin tak semudah itu buat kita meremehkan, apalagi sampai kita yakin menang, Para Games seperti banyak orang bilang bukanlah kompetisi kelas dua, disini SEA Games dan Para Games adalah sama, di kedua kompetisi ini sama-sama memiliki atlet hebat, apakah kita pikir mudah lopat jauh dengan ancang-ancang hanya menggunakan satu kaki? dengan kaki palsu sekalipun?

Pernah mendengar nama Angkie Yudistia? seorang wanita cantik penyandang Tuna Rungu  yang juga penulis buku “Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas”, saya belum pernah membaca bukunya, tapi ingin segera baca bukunya, ingin tahu apa sih yang dia pikirkan selama ini tentang kondisi dia yang tuna rungu, dia juga penggerak Gerakan Pita Bitu, ah semoga ini bukan hanya simbolik semata, tapi benar-benar menjadi wakil bagi difabel bahwa mereka tidak bisa diremehkan, saya jadi teringat teman-teman Gerkatin Solo (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia), dari teman-teman Gerkatin saya banyak belajar tentang Bahasa Isyarat, di awal-awal dulu saya dibuat kebingungan, apalagi kalau mereka ingin mengeja nama seseorang, saya sampai minta nama itu ditulis aja, tapi pelan-pelan sekarang saya mulai hafal alfabet dengan bahasa isyarat berkat poster yang mereka beri, ingin rasanya suatu hari nanti mengajak mereka menulis tentang mengalaman hidup hebat mereka sebagai difabel dan dibukukan untuk amal.

Halte ramah Difabel di Solo

Kabar gembiranya adalah perlahan kota saya mencari rezeki, Kota Solo berkembang menjadi kota yang ramah difabel, Bus Rapid Transit yang ada di Solo “Batik Solo Trans” misalnya, didesain menjadi bis yang ramah bagi pengguna kursi roda, ada bagian kursi bis tepatnya di depan pintu yang bisa dilipat sehingga bisa dijadikan sandaran bagi yang menggunakan kursi roda, begitu juga pintu bis, dan jalur untuk menaiki haltenya sangat ramah dengan kursi roda, jalur pedestriannya pun sudah ada jalur khusus bagi Tunanetra meski belum begitu sempurna tapi saya kira ini sudah cukup membantu, tinggal kesadaran kita untuk tidak menyalahgunakan jalur tersebut misal untuk parkir, berjualan ataupun sekedar nongkrong.

Bagi saya pribadi, tak perlu menganggap difabel sebagai sesuatu yang spesial, tak perlu over perhatian, kita hanya perlu menghormatinya sebagai sesama manusia dan memberinya prioritas pada kesempatan tertentu, semisal pada saat mengantri. tulisan ini semoga menjadi refleksi bagi diri saya pribadi sekaligus yang membacanya, Jika mereka saja mampu merubah dunia mengapa kita tidak, Mas Pono aja serajin itu kenapa saya tidak? Angkie aja bisa bikin buku kenapa saya tidak? Widodo aja bisa renang dan suer hingga kini renang saya hanya gaya batu, berarti saya masih kalah dong?? ya ya … mereka hebat tapi mari kita mengejar mereka, Ya Yakin kita bisa…!! *merekaajamampu*

 

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

14 Comments

HeruLS

Wujud yang paling sederhana dari meyaksikan pertandingan Para Games adalah motivasi diri. Selebihnya, kembali ke pribadi masing-masing untuk menyikapi.

arman

salut sekali sama mereka. walaupun fisik nya tak sempurna, tapi semangat dan niat nya luar biasa!

silvi

Subhanallah…gak mampu berkata kata mas…yg semakin terasa sesudah baca postingan ini adalah rasa syukur yang semakin bertambah kepadaNYA…dan semangat yang mereka tularkan luar biasa, mereka saja dengan segala keterbatasannya bisa ‘eksis’ dalam hidupnya…seharusnya kita juga…hehehee…

julie

rasanya aku jadi malu melihat semangat mereka soalnya kadang belum2 suka nyerah duluan gak pede bisa apa gak melakukan sesuatu

Zippy

Jadi minder sama mereka2 mas.
Saya aja yang punya kelengkapan tubuh seperti ini gak bisa seperti mereka.
Salut buat mereka semua :)

@zizydmk

Jadi malu sama diri sendiri. Kadang suka mengeluh capek ini capek itu, padahal mereka yang fisiknya tidak lengkap saja bisa.

Prapto Ari

I belief that :-) Solo terus berbenah dan satu hal yang dari semua ini bahwa “terkadang kita memiliki keterbatasan tetapi disisi lain kita pasti punya kelebihan yang di karuniakan Tuhan” jadi tergantung kitanya mau menggali atau tidak. SALUT buat kakak2 atlit ParaGames

Haji Taufiq

Kalau mereka yang punya kekurangan aja bisa, kenapa kita yang memiliki kelengkapan dalam anggota tubuh ga bisa, So ga ada alasan untuk mngatakan tidak, tapi…Pasti Bisa, asal ada kemauan keras

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>