Sugeng Rawuh ~~
Berburu Ta’jil Berburu Buber (Gratisan)
To the Point aja, saya bulan puasa ini harus hemaaaat banget, agak mengganggu sih tapi untunglah bulan Ramadhan cukup membantu saya dalam berhemat, apa kuncinya? TA’JIL, yah bulan Ramadhan merupakan surganya makanan gratis, pertama kali melakuin raguu banget, sempet sih kepikir apakah Ta’jil gratis hanya berlaku buat mereka yang kurang mampu sebagaimana zakat, namun sepertinya untuk gratisan bagian ini tidak, setelah gugling guling-guling ternyata ta’jil gratis khususnya disiapkan untuk para musafir yang berpuasa, nah umumnya ya buat semua yang berpuasa, jadi maap-maap aja kalau akhirnya saya ketagihan berburu ta’jil hehe.
Onliners Solo di OBENG #1
Kemarin komunitas blogger tempat saya bernaung punya gawe, OBENG #1 (Obrolan Bengawan) untuk pertama kali diadakan dengan tema “Creative City Branding via Twitter” , dengan persiapan ala kadarnya sesederhana panitianya yang senantiasa berfikir simple, realisasi dari kopdar Angkingan Klithik Manahan 3 minggu yang lalu. Awalnya kukira acara ini bakal sepi tamu, mengingat saya tidak menemukan trid di Kaskus Regional Solo, Koprol, bahkan di timeline, sepi seakan tanpa publikasi.
Blogilicious Trah Yogyakarta
Saat saya mengetik ini saya udah mulai ngantuk, selesai sudah mencuci sepatu dan beberapa pakaian kerena kemarin belum sempat cuci-cuci, pukul 19.05 tadi saya jalan kaki dari turun angkot menuju kos dengan buru-buru karena kebelet pipis, tidak ketemu masjid straight ke kost dan kedubrakan membuka pintu kamar mandi.
Hari ini saya hadir di hari terakhir Blogicious yang diadakan oleh Idblognetwork setelah kemarin tidak bisa ikut karena kerja, tadi pagi pukul 4 pagi saya bangun, langsung browsing jalur-jalur BRT TransJogja karena saya belum tahu dan belum pernah menaikinya, sempat juga menengok kembali jadwal prameks, setelah packing saya segera keluar dari kost yg tinggal saya penghuninya ini karena weekend, saat saya membuka pintu gerbang kost ternyata mbah kost saya sudah menyapu di depan, saya pamitan sambil melirik jam di tangan. 04.57.
Elegan dan Penuh Warna Dengan Lampu LED
Ada yang pernah menata kamar? Pasti semua udah pernah punya kamar kan? Ya minimal kamar kos lah, kadang kita-kita suka menempel poster atau apalah di dinding, atau mungkin lukisan yang sangat dibanggakan, tentunya demi mempermanis ruangan, siapa sih yang nggak pingin rumah atau kamarnya dibilang keren dan elegan. Jika siang hari mungkin pencahayaan di dalam rumah bagus yang bisa menghidupkan properti dan hiasan dinding di sekitar, tapi kalau malam? Redup? Dan semua properti hiasang dinding termasuk lukisan dan poster itu nampak tidak maksimal, terlebih tidak terlihat. Wah padahal tamu kan ada juga yang datang malam, iya nggak? Sayang dong hiasan bagus-bagus nggak kelihatan.
Ada sih penyelesaian, bisa dengan lampu-lampu yang dipasang di beberapa sudut ruangan, dengan demikian semua posisi bisa memiliki pencahayaan maksimal, tapi apa ini efisien? Ah pasti tidak, kalau ada yang hemat mengapa harus ribet-ribet, teknologi menjawab yakni lahirnya lampu LED, kenapa lampu LED begitu fenomenal? emangnya apa sih bedanya dengan lampu biasanya, ternyata lampu LED ini merupakan hasil temuan luar biasa dalam revolusi pencahayaan ruang, karena rumah dan kamar kamu tidak butuh sesuatu yang terlalu terang, namun tidak juga terlalu redup, Lampu LED menjawab kondisi ini dengan pencahayaannya yang pas.
Mendadak Cerita Pak Letkol
Sumprit saya masih kurang hafal tentang urutan pangkat TNI meski teman kecil saya kini sudah berpangkat Serma, cerita ini masih fresh from the oven karena baru saja terjadi, siang tadi saya menemui seorang aktifis Wikipedia asal Solo, dia adalah salah satu punggawa di Wikipedia Indonesia, dan saya langsung menemuinya di Loji Gandrung / Rumah Dinas Walikota Solo, kami akan mempresentasikan ke pak Wali untuk mengupayakan acara Wikimania 2013 agar bisa dihelat di kota Solo, namun akhirnya terpaksa rencana itu batal karena pak Walikota Jokowi sedang berhalangan karena sakit.
Sepulangnya saya mampir bentar di sebuah warung Soto kaki lima di daerah sekitaran Singosaren, hanya ada 2 orang disitu, 1 orang pembeli, dan 1 orang penjual, awalnya saya cuek sambil mengambil setumpuk koran SOLOPOS yang tergeletak di salah satu meja, namun setelah Soto terhidang dan penjual kembali duduk disamping bapak pembeli itu dan saling antusias.
