Pemilu Indonesia Sejak Bung Karno hingga hingga Habibie

Saya sebelumnya tidak menyukai bicara tentang politik, kini pun masih, tapi saya sejak dulu tetap berusaha tahu update tentang informasi politik di Indonesia, sayangnya pengetahuan saya baru sebatas akhir-akhir ini, sejak zaman pak Gus Dur lah kira-kira, bahkan pada Era Habibie pun saya masih merasa buta, alhasil saya sering terombang ambing informasi dari pendapat orang-orang di sekitar saya.

Pada suatu hari dalam rapat redaksi, ada sebuah naskah yang telah diprint menjadi sebuah jilid yang tebal, kira-kira tebalnya 8 Cm dengan kertas kuarto 80 gram, ‘Ini ada naskah baru!’ kata pimpinan redaksi, draft tersebut tergeletak di tengah-tengah meja meeting yang bundar, mata kami saling pandang, saya yang pertama mengambil draft buku itu dan mengecek isi dan halaman-halaman tertentu, dan kemudian saya menyatakan mendukung terbitnya buku tersebut, judul bukunya “Dari Soekarno hingga Yudhoyono : Pemilu Indonesia 1955 – 2009“.

Ternyata draft tebal itu setelah dihitung sesuai layout standar cetakan kami bisa dibuat dalam 400an halaman, jadi handling buku tetap nyaman dan tidak tebal, dan benar saja ketika buku selesai dicetak ternyata menjadi 430 halaman, tepat sabtu kemarin saya langsung pinjam buku ini untuk saya bawa pulang.

Buku ini mencatat pemilihan umum sejak pertama kali digelar di tahun 1955 hingga pemilu terakhir tahun 2009, dijelaskan dengan cukup gamblang oleh penulisnya Widjanarko Puspoyo, di awal-awal halaman saya tergelitik dengan sebuah nama yang awam bagi saya namun sering sekali disebut, namanya Clifford Greetz, dia adalah penulis buku ‘the Religion of Java’ dimana ia menuliskan masyarakat jawa bisa dibedakan dalam 3 varian Santri, Abangan dan Priayi, santri identik dengan Islam, adalah golongan yang taat dengan doktrin agama Islam dan diasosiasikan dengan pedagang, tuan tanah dan petani kaya, Abangan adalah golongan yang lebih menekankan animisme dan sinkretinisme jawa, golongan ini diasosiasikan dengan buruh tani, petani miskin, nelayan, dan sebuah pola yang diidetikan dengan kejawen, sedangkan golongan Priayi sebagai kelas bangsawan atau ningrat yg merupakan kelas sosial sendiri di kalangan jawa, dengan watak lebih birokratis.

Nantinya golongan inilah yang mewarnai kehidupan politik di awal-awal berdirinya Indonesia, dari golongan santri muncul partai Masyumi, NU, PSII, dan Perti, dari golongan abangan muncul PKI, PSI, Murba, Partai Kedaulatan Rakyat, Partai Serikat Rakyat Indonesia, dan PARI, dan dari golongan Priayi muncul partai PNI dan Partai Kebangsaan Indonesia, inilah yang terjadi di era Orde Lama dimana banyak bermunculan partai.

Di Orde Baru partai-partai tersebut disederhanakan, beberapa dibubarkan dan bubar, menyisakan 3 partai yakni PPP, Golkar, dan PDI, tulisan Greetz masih berlaku sampai disini, golongan Santri berafiliasi dengan PPP, abangan dengan PDI, dan Priayi dengan Golkar.

Dalam buku ini juga dijelaskan berbagai hasil peneliti baik dari Indonesia maupun Internasional, seperti Herber Feith dan Lance Castles (1970), serta ulasan Noercholis Madjid (1982) tentang perbedaan Agama, Adat Istiadat dan status sosial, bahkan dari Bung Karno juga muncul sebagai cendekiawan dan melahirkan tulisan dari pengamatannya yang tajam ttg masyarakat Indonesia, dia membagi aliran politik Indonesia terbagi dalam 3 aliran, yakni Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, menurut Widjanarko sampai batas tertentu pemikiran Soekarno masih “terdengar’ sampai sekarang.

Tahukan anda bahwa berdirinya partai-partai politik Indonesia pertama kali pasca kemerdekaan didasari oleh maklumat pemerintah yang dikeluarga oleh Bung Hatta pada 3 Nov 1945.

Tahun 45 – 57 merupakan tahun-tahun tidak jelas menurut saya, karena kabinet silih berganti dan partai-partai saling berebut kursi menteri, saat – saat dimana kabinet hanya berjalan selama setahun bahkan kurang, bisa dibayangkan bagaimana sebuah pemerintahan bisa menjalankan program dengan baik dan benar pada kondisi seperti itu, sayang sekali pak Widjanarko tidak menjelaskan lebih rinci, tentang permasalahan-permasalahan yang selama ini off the record misalnya sikap-sikap perdana menterinya dll.

Ketika Orde Baru tiba peta politik berubah drastis, semua partai politik yang kritis terbungkam seakan pemerintahan minim oposisi, pada masa ini oposisi adalah budaya yang buruk dan dianggap justru membuat negeri ini tidak stabil (halaman 212), PPP menjadi partai yang kompromis dan dan akomodatif dengan harapan agar Presiden Soeharto menempatkan kader2nya di kursi kementrian, PDI pun harus mengalami perpecahan di internalnya, hal ini menurut penulis lebih disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola konflik internal, sedangkan Golkar digambarkan layaknya manusia Gendut yang susah bergerak (hal 247), kader lebih mengedepankan prinsip ewuh-pekewuh (tidak enak hati) dan minta petunjuk, sehingga diantara kader Golkar tidak muncul sifat kritis maupun inisiatif.

Gelombang demonstrasi muncul pertama kali 9 Januari 1998, demonstrasi berubah menjadi kerusuhan dan melebar ke kota-kota lain seperti Medan, Solo dan Surabaya, diklaim telah jatuh duaribuan korban jiwa akibat kerusuhan ini (Hal. 278), dan akhirnya dalam suasana tegang 21 Mei 1998 jam 10.00 WIB Pak Harto mengundurkan diri dari jabatan presiden, euforia tak terbendung, segala yang berbau Orde Baru dihujat dari dicaci maki, disini Orba telah mati berganti reformasi.

Habibie adalah the next president, di awal kepemimpinannya dia dihadapkan dalam berbagai masalah berat, dia yang dianggap masih mempertahankan Orde baru, dikejar deadline menangani kasus suap bank Bali (Hal. 279) hingga masalah Timor Timur, pada saat itu muncul kesan Habibie lemah karena tidak mampu mengadili kasus KKN Soeharto, hal ini menumbulkan citra buruk baginya kala itu.

Pemilu pertama pasca reformasi pada 7 juni 1999, pemilu yang diikuti oleh banyak sekali partai, kemeriahannya konon seperti pemilu pertama kali tahun 1955, mirip kejadian pasca maklumat bung Hatta dulu (paragraf 8 tulisan ini), pemilu tersebut dinilai sangat demokratis, pemilu ini konon makan korban sampai 151 orang (kecelakaan saat pemilu dan insiden massa golkar dikejar2 massa partai lain).

Sampai disini ilmu baru yang saya peroleh di buku ini, pada kepemimpinan selanjutnya seperti Gus Dur, Bu Mega, dan pak SBY saya relatif mengerti karena informasi di internet sudah cukup melimpah, namun dari buku ini minimal saya mengetahui sepak terjang, timbul dan tenggelamnya presiden kita, bagaimanapun tidak ada presiden yang sempurna, apapun itu saya menghargainya sebagai pemimpin negara. Seperti kata banyak orang, tak ada istilah mantan presiden, catatan dalam buku ini bisa menjadi acuan untuk memilih pemimpin di pemilu selanjutnya, kesalahan dimasa lalu akan menjadi ilmu baru untuk kepemimpinan di depan dan saat ini.

Saya termasuk pembaca pertama, bahkan yg pertama kali ketika buku ini selesai dicetak, dan dalam waktu dekat buku ini InsyaAllah segera tersedia di toko-toko buku Gramedia, Gunung Agung, Togamas, dan lainnya.

Disclosure : Penulis bekerja di penerbit yang menerbitkan buku ini.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>