Pilihan Berat @ Bukan Untuk Dibaca

Jadi teringat pada sebuah kisah temen kantor, waktu dia menunggu stand di Islamic Book Fair di Senayan pekan lalu, ada remaja melihat buku buku di stand kami, dia bolak-balik buku dan isinya, hingga akhirnya dia tanyakan harga ke temen saya. “Buku yang ini berapa mas?”, teman saya menjawab “45ribu mbak, sudah diskon 30%”, dia sempat menawar “kalau 40 ribu boleh tidak mas?” teman saya waktu itu menjawab dengan kata “maaf belum bisa mbak”, namun sepertinya remaja itu tidak jadi membeli kemudian berlalu meninggalkan stand menuju stand lainnya, namun beberapa saat kemudian dia dan sahabatnya kembali, dia pegang lagi buku yang tadi sempat dia tanyakan harganya itu, dia bolak-balik lagi halamannya, teman saya berkisah sekilas nampak remaja itu berdiskusi lama dengan orang di sebelahnya, nampaknya dia pinjam uang ke sahabatnya itu, dan akhirnya dia memutuskan berkata “mas saya beli yang ini” mantap. tidak dia duga ternyata teman saya justru bilang “40ribu aja mbak, ini kembalinya”, remaja itu nampak sumringah.

terkadang menyampaikan sesuatu yang benar seringkali mendapat tantangan, namun sudah seharusnya kita sampaikan apa pun konsekuensinya. Sesuatu yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang popular tidak selalu benar

“Wow, tumben kamu bijak gitu? jangan2 mbaknya cantik ya? tapi keputusanmu bener banget mas, semoga rejekimu lancar, Aamiin” itulah komentarku setengah meledek setelah mendengar ceritanya setelah tiba di kantor pusat kami di Solo, buku yang dibeli remaja itu adalah “Bukan Untuk Dibaca”, berisi 147 cerita inspirasi yang beberapa diantaranya cukup mudah ditemukan kisah serupa di internet, namun karena kemasannya yang menarik yakni hardcover dengan warna hitam polos serta ornamen UV Spot dan emboss, saya jadi merasa perlu untuk punya, terlebih di cover belakang tertulis semua royalti buku ini akan disumbangkan untuk Rumah baca dan PAUD di Indonesia, saya sendiri akhirnya beli 2, 1 untuk koleksi pribadi dan 1 untuk gift, saya membaca sebuah cerita paling mengena dalam otak dan (mungkin) hati saya, yang sebelumnya belum pernah saya fikirkan, yakni yang berjudul ‘Pilihan Berat’, yang kebetulan saya belum pernah membaca kisah ini di internet.

Cerita ini saya tulis berbeda dengan yang di buku namun saya pikir maknanya sama saja, pada suatu ketika ada sekumpulan anak kecil sedang bermain-main, 1 orang bermain di tepi kiri jalan, sedangkan sekumpulan anak lainnya nampak asik bermain-main di tengah jalan tersebut yang kebetulan dekat dengan sebuah tikungan, jalan itu sebenarnya adalah jalan raya namun karena berada di pinggiran kota membuat jalan itu sangat sepi dan jarang dilewati kendaraan, sisi kanan jalan terdapat tukang ojek yang sedang mangkal yang berderet-deret di pinggir jalan dan disitu terdapat sebuah plakat Pangkalan Ojek, pada saat bersamaan melaju sebuah mobil sedan kencang sekali, usai melewati tikungan yang tidak tajam dia dikejutkan dengan anak-anak yang sedang bermain di tengah jalan dan jaraknya sangat dekat dengan mobilnya, karena terlalu kencang mobil dan terlalu dekat mobil tidak memungkinkan berhenti cepat, pilihannya adalah banting ke kanan dengan resiko menabrak kumpulan tukang ojek yang sedang mangkal, atau membiarkan mobil berjalan terus dan berharap mobil berhenti tepat waktu dengan resiko menabrak kumpulan anak kecil yang sedang bermain di tengah jalan, atau cukup banting ke kiri, dengan resiko disana hanya ada 1 orang anak kecil yang sedang bermain di pinggir jalan bagian kiri.

Sebelumnya saya punya logika bahwa membanting ke kiri adalah opsi yang paling tepat, toh selama ini saya lihat-lihat di tivi bahwa sanksi dari sebuah kecelakaan seringkali dibebankan oleh banyaknya korban, namun di buku ini saya diingatkan, bukankah anak kecil yang bermain di pinggir kiri jalan sudah melakukan hal yang benar? dia tak perlu waspada dengan keamanannya toh dia sudah bermain di lokasi yang dia anggap aman, sedangkan tukang ojek di sebelah kanan juga sudah berada di tempat yang tepat, dia parkir di pangkalan ojek yang secara de jure mereka merasa benar karena ada plakat pangkalan ojek di atasnya, problem sebenarnya disebabkan oleh sekumpulan anak yang bermain di tengah jalan, bagaimanapun bermain di tengah jalan raya tidak bisa dibenarkan meski jalan tersebut jarang sekali dilalui kendaraan, di buku ini saya diingatkan bahwa pernahkah kita berfikir bahwa anak-anak yang bermain di tengah jalan ini punya naluri waspada karena bermain di tempat yang salah, sehingga saat melihat mobil mereka bisa spontan lari menepi untuk menyelamatkan diri, justru bisa jadi jika sang sopir memutuskan membanting setir ke kiri atau ke kanan justru bisa semakin banyak korban lagi, karena anak-anak yang bermain di tengah jalan sudah terlanjur spontan menepi, sedangkan naluri waspada ini mungkin tidak perlu ada pada anak yang bermain sendirian di kiri jalan ataupun tukang ojek yang sedang mangkal di kanan jalan, sayang jika anak kecil yang hanya seorang itu harus menjadi korban dari kesalahan teman-temannya bukan? padahal dia sendiri sudah bermain di tempat yang benar.

Cerita diatas hanyalah penggambaran saja, meski kenyataannya sangat jarang sekali terjadi anak-anak diperbolehkan bermain di tengah jalan raya, bagaimanapun orang yang lebih tua di sekitarnya (dalam kasus ini tukang2 ojek itu) diharuskan untuk melarangnya, di cerita ini pesan yang ingin disampaikan penulis adalah terkadang menyampaikan sesuatu yang benar seringkali mendapat tantangan, namun sudah seharusnya kita sampaikan apa pun konsekuensinya. Sesuatu yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang popular tidak selalu benar.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

8 Comments

evi

waaa…tiga2nya pilihan yg sulit. amit2 jangan sampai menemui. makanya bagi yg mengemudi jangan ngebut2 agar tak harus berhadapansengan perkara sulit ini

Triunt : betul, dan jangan jangan sampai ada yang bermain atau bercanda di tengah jalan, biar tidak membahayakan yg lain :)

Fadly BiluPing

Aku salut dengan temannya mas, jadi ingat juga masa2 dimana harus minjam untuk mencukupi uang yang tidak genap :)
terus untuk kisahnya, aku setuju bahwa hal benar itu harus selalu disampaikan apapun konsekuensinya… makasih informasinya, salah kenal sebelumnya :)

Triunt : Iya mas, namun memang menyampaikan yang benar itu tidak selalu mudah, salah duanya adalah faktor kepentingan dan tekanan dari orang lain :)

giewahyudi

Judulnya memang memancing rasa penasaran. Kala tidak untuk dibaca ya untuk dibeli..
Soal kebenaran memang relatif, Mas. Tergantung dari mana sudut pandang masing-masing orang..

Nenden SAN | @nden

wuihhh ajibb, tapi apa dalam kondisi mendesak kayak gitu bisa mikir dan memutuskan dengan cepat ya?
nek aku sing berada di posisi itu, mbuh harus ngambil pilihan kayak gimana. LOL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>