Rectoverso – Sahabat Kecil

Hujan

Hari ini hujan,
Disudut sebuah kantor berdinding kaca tebal ini, kujinjing payung yang tadi siang diberikan Ega, wanita karir pekerja kantoran yang hari ini katanya lembur mengerjakan sisa tumpukan kerjanya,
“Pakai saja payung ini Dev!, ntar gue dijemput sama Lexa” suruhnya seperti tanpa beban, dia juga tak menatapku, sama sekali tidak.

Maka jangan salahkan aku jika payung ini sekarang ku bawa, pikirku dalam hati.

Jika kau lihat hujan, kau pasti melihat daun yang basah dan berangguk-angguk karena guyuran hujan, lebih beruntung sekali jika kau melihat bunga Desember yang mengembang lebih awal dari deadlinenya, sejak SMA banyak teman bilang November adalah bulan yang romantis, tapi itu kata mereka, tak kurasakan sedikitpun romantis di bulan penuh pekerjaan ini.

Namaku Deva, seorang cowok desa yang belajar mencari duit di kota besar sekelas Jakarta, kota yang sewaktu kecil dibenakku selalu terfikir sebagai kotanya orang kaya, ya anak orang kaya, anak-anak yang selalu diajak belanja orang tunya di supermarket sambil bermain mandi bola, permainan yang menjadi obsesiku sejak kecil yang hingga kini belum pernah sekalipun ku mencobanya, kau tahu apa artinya obsesi, biarpun sederhana banyak rasa kesal jika tak kunjung kita mendapatkannya.

Aku pulang tidak naik mobil, bis kota penuh karat dan sekali busway cukup untuk membawaku pulang ke kostku, menikmati lembabnya keringat pelanggan bis yang tercampur basah air hujan. disela deru suara bis dan gemericik roda-rodanya yang menginjak kubangan hingga membuat 4 patah umpatan dari pengendara motor di sekitarnya, pikirku tertuju pada pemilik payung yang kini sudah basah ini, tanpa perlu banyak kata kini aku mencintainya, tak bisa kuceritakan bagaimana aku mencintainya, dalam kesadaranku aku tahu telah mencintainya sejak pertama aku mengenalnya, dan itu setahun yang lalu, saat dia keluar dari pintu Sedan perak berukir tulisan Camry, mobil bos kami yang bernama Lexa.

Memasuki gang demi gang penuh anak-anak sedang ramai bermain bola, senyum mereka begitu tulus, kaosnya basah penuh kotoran dan lumpur air hujan, ku paham tak mungkin mereka peduli akan semua itu, namun dalam sekali lewat, sudah ku dengar mereka saling teriak marah-marah, saat salah satu ku dengar dari mereka menangis, ku tak lagi memperhatikannya meski pikirku jauh menuju masa 18 tahun lalu ke masa seperti anak-anak ini, masih kuingat masa itu juga hujan seperti ini, bermain-main bola seperti mereka, berkotor tanah juga seperti mereka, masih kuingat saat ku tendang bola bekas yang setengah bocor itu, mengenai seorang anak lelaki tampan, penjaga gawang itu, dia menangis saat bolaku menghajar hidung dan kepalanya, ku lihat bulir leleran darah dari hidungnya, hingga kita harus bertengkar, nama penjaga gawang yang tampan itu bernama Lexa, orang yang sama dengan yang kini menjadi bosku, orang yang sama dengan penjemput Ega nanti sore, Percayalah obsesiku adalah Ega.

_______________________________________________________________

Ditulis oleh Anomin untuk rectoverso, Terispirasi lagu Sahabat Kecil – Ipank

Ingin mengirim cerita rectoverso juga? atau sekedar berkomentar, silahkan  melalui form pesan berikut, pesan dan komentar anda tidak akan ditampilkan ke blog, tatapi disampaikan pada penulisnya.

Nama kamu (wajib)

Email kamu (Email yang sering kamu cek, pastikan kamu tahu jika kami membalasnya)

Pesan

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn