Saya adalah Akumulasi Bimbingan Guru

Berbicara tentang guru, seperti menerawang lembaran pita seluloid tentang memori pendidikan saya di masa lalu, ada banyak kisah ceria, inspiratif, memilukan, lucu, dan memotivasi, asik bercengkerama bagai sahabat, dimarahi sampai bingung mau jawab apa, hingga didiamkan oleh guru karena bolos kelas, jika diingat mata saya bisa basah karenanya, bukan mendramatisir, namun cerita tentang guru selalu menjadi cerita tak tak pernah ada habisnya dimata saya.

Bapak bisa tahu banyak hal dalam pelajaran kalian, tapi bapak masih tidak tahu mengapa pesawat bisa terbang

Guru sahabat Bercengkerama di Pulang Sekolah

Kelas 4 SD adalah kelas yang paling seru tiap akhir jam sekolah kami, karena pak Tukino guru kelas kami selalu membuat sesi tanya jawab materi sekolah yang siapa siswa yang paling cepat menjawab dia yang terlebih dahulu pulang, saat itu saya termasuk yang paling awal-awal bisa menjawab, bisa dikatakan saya adalah 6 murid yang sering mampu keluar paling awal diantara 32 murid kelas 4 yang ada, namun saya dan teman-teman yang bisa menjawab lebih awal tidak langsung pulang, saya menunggu yang lain utamanya yang sekampung untuk bisa pulang bersama, dan Pak Tukino yang kebetulan rumahnya searah dengan kami (saya berlima dengan sahabat tetangga yang lain) juga turut bersama kami, pulang bersama 5 murid dan 1 guru, bercengkerama seperti layaknya sahabat dalam perjalanan pulang yang hanya berjalan kaki, pak Tukino pernah melontarkan 1 hal, “Bapak bisa tahu banyak hal dalam pelajaran kalian, tapi bapak masih tidak tahu mengapa pesawat bisa terbang”, sejak saat itu saya selalu berfikir dan mencari tahu mengapa pesawat bisa terbang dan mendarat terkendali bahkan sampai sekarang, pernahkan kalian berfikir mengapa pesawat begitu terkendali ketika terbang? itulah mengapa saya selalu meyakini pak Habibie merupakan salah satu jenius terbaik Indonesia.

Bagi saya pak Tukino adalah guru kelas sekaligus guru fisika pertama saya, karena waktu itu SD tidak ada pelajaran fisika, tapi pak Tukino mampu menerangkan dengan gamblang sistem “Pesawat Sederhana” seperti pengungkit dan jungkat-jungkit, medan magnet, gelombang transversal dan longitudinal, dengan alat peraga yang didapatkan dari Depdikbud pada saat pelajaran IPA.

Jembatan Keledai ala Pak Kasdi

bagi saya IPS memang pelajaran yang harus dihafal, ini adalah bagian ilmu pengetahuan yang membutuhkan memori tinggi, dengan kreatif Pak Kasdi membuat hafalan yang sulit menjadi kian mudah.

Pak Kasdi bukanlah guru sekolah saya, tapi beliau adalah guru les saya ketika kelas 6 SD, rumahnya dekat dengan rumah saya sehingga saya cukup jalan kaki untuk berangkat les, lingkungan les juga akrab, itulah kenapa saya yang biasanya tidak betah les bisa bertahan 1 tahun les disana, pak Kasdi ini sedikit nyentrik, karena setiap siswa lesnya harus menggunakan buku jurnal folio untuk mencatat dan test, di buku inilah puluhan jembatan keledai kami tulis, seperti negara ASEAN disingkat Inmapisi-t- bumikalavi (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei, Myanmar, Kamboja, Laos, Vietnam), asia Barat disingkat Siti iso bali yo kuco yayaqami, Amerika Selatan disingkat Urpaborudorcolagurin-bca, dari jembatan keledai inilah nilai IPS UAN saya mencapai 9 lebih (lupa persisnya), pak Kasdi adalah spesialis IPS, dan saya yakin berkat beliau juga saya akhirnya bisa masuk SMPN 1 Wonogiri, bagi saya IPS memang pelajaran yang harus dihafal, ini adalah bagian ilmu pengetahuan yang membutuhkan memori tinggi, dengan kreatif Pak Kasdi membuat hafalan yang sulit menjadi kian mudah.

Cerdaslah dalam emosi, Cinta itu bisa Berbahaya…!!

Pagi itu kami siap menandatangani STTB dan Danem kelulusan SD, bu Guru mengabsen kami satu persatu untuk tanda tangan, hingga tiba giliran saya, saat menandatangani danem saya terlalu menjorok ke foto dan kurang menyisakan ekor untuk lebar kertas Danem, bu guru langsung memarahi saya, saya tak menyangka bu guru meledak sekeras itu, bahkan beliau segera keluar kelas dan masuk ke ruang guru, takut dan malu saya bercampur menjadi satu, karena banyak hal, karena saya berasa tidak becus tanda tangan, saya membuat jadwal tanda tangan teman-teman absen setelah saya menjadi tertunda, dan saya malu dengan bu guru dan guru yang lain, sejam kemudian tanda tangan kembali dilanjutkan, saya diminta tanda-tangan STTB dengan lebih baik dan memperbaiki sedikit tanda tangan saya di lembar Danem.

saya serasa belajar psikologi sebelum saya mengenyam Bimbingan Psikologi.

Ketika kelulusan saya menjadi lulusan terbaik urutan-4, ketika bu guru memberi ucapan selamat dia langsung mencium pipi dan memeluk saya untuk meminta maaf atas kemarahan beliau beberapa waktu yang lalu, lega-nya bukan main saat itu, itu pertama dan terakhir kali saya dicium dan dipeluk oleh guru saya sendiri.

Adalah seperti disambar petir ketika saya harus mendengar kenyataan bahwa bu guru meninggal karena bunuh diri di saat-saat saya menjelang masuk SMP, penyebabnya karena “Cinta”. Sahabat…. saat itu saya belajar banyak bahwa cinta itu berbahaya jika tidak mampu mengontrol, dan kecerdasan emosi itu juga penting untuk dikelola, saya serasa belajar psikologi sebelum saya mengenyam Bimbingan Psikologi.

Buat Apa Kamu Berdoa, Jika Tak Sedikitpun Kamu Berusaha..??

saat saya bersalaman, jabatan dia erat, dia mengguncangkan tangan saya penuh kekuatan, dia berucap “Kamu bisa Triun!”, sahabat… saya tidak pernah menyangka pak Joko hafal nama saya, sebelumnya tak pernah sekalipun pak Joko menyebut nama saya tanpa melihat absen, buku tugas, atau lembar jawab, saya merasa diperhatikan, semangat saya memuncak

Sulit digambarkan betapa menyesalnya saya masuk kelas IPA dulu, saya harus mempelajari Matematika IPA yang sesungguhnya bukan minat saya, stigma IPA lebih baik daripada IPS adalah salah satu bagian yang sulit saya terima, dan kenapa orang rumah seakan meminta saya harus masuk kelas IPA, mempelajari Matematika waktu itu merupakan aktivitas buang-buang energi dan fikiran serta emosi, saya harus ketakutan luar biasa tidak lulus SMA hanya gara-gara matematika, saya sulit menikmati Matematika, tidak seperti saya yang begitu mudah menikmati Sejarah, Geografi, dan Ekonomi.

Suatu sore, di jam tambahan matematika menjelang ujian, salah satu guru matematika datang, beliau bernama pak Joko, ada yang berbeda, dia tidak meminta kami untuk mengerjakan soal-soal seperti biasa, dia diam di tengah kelas, hening saat itu, pak Joko buka suara, ternyata beliau akan berkisah, Pak Joko menceritakan bagaimana kita bisa memperkirakan waktu tempuh menuju ke suatu lokasi hanya dengan bermodalkan jarak dan kecepatan, “Jika kalian ingin jadi arsitek, matematika adalah urat nadinya, jangan dikira hanya bermodal gambar..!! biarkan sekolah lain membuat doa akbar, namun jika tidak ada usaha, lalu apa yang kalian harapkan? berdoalah dari hati kalian bahwa kalian sungguh-sungguh telah berusaha,” saat itu mendadak langit-langit otak saya terbuka, saya yang pernah bercita-cita ingin menjadi arsitek termotivasi untuk mempelajari Matematika, bukan karena keterpaksaan dan beban, tapi kali ini saya seperti tertular passion matematika-nya pak Joko.

pasti mereka terkecoh dengan soal ini, dan saya tidak!

Sahabat, saat itu matematika menjadi prioritas belajar saya, saya mulai mudah berlogika dan seakan saya seperti mudah memperkirakan arah untuk menghitungnya, soal matematika yang dulu saya berfikir banyak jebakan kemudian berubah mindset bahwa disinilah justru seni matematika dan kadang malah berfikir sedikit licik “pasti mereka terkecoh dengan soal ini, dan saya tidak!”.

Ketika hari-H jadwal UAN Matematika tiba, saat kami memasuki gerbang sekolah nampak pak Kepala Sekolah siap menyambut semua siswa di ujung lorong masuk utama sekolah saya, kemudian setelahnya pak Joko dengan senyum sumringah menyambut kami, saat saya bersalaman, jabatan dia erat, dia mengguncangkan tangan saya penuh kekuatan, dia berucap “Kamu bisa Triun!”, sahabat… saya tidak pernah menyangka pak Joko hafal nama saya, sebelumnya tak pernah sekalipun pak Joko menyebut nama saya tanpa melihat absen, buku tugas, atau lembar jawab, saya merasa diperhatikan, semangat saya memuncak, dan saya menikmati detik demi detik mengerjakan UAN Matematika ini, dan saya lulus dengan nilai cukup memuaskan.

Kurikulum itu bernama Passion

Sulit dielakkan, orang sekarang lebih memilih berprofesi menjadi guru karena gaji yang cenderung besar jika sebagai PNS, jika niat menjadi guru hanya karena itu bukanlah sangat menyedihkan sekali bangsa ini, bukankah guru itu mestinya pahlawan tanpa tanda jasa?

Hanya orang tua yang memiliki passion sebagai orang tua yang akan sabar dan telaten dalam membimbing anaknya, begitu juga guru

Bahkan untuk memilih program pendidikannya, para calon guru itu lebih disebabkan oleh kemungkinan peluang besar untuk lolos saat seleksi PNS nanti daripada mengikuti passion dia.

Mau jadi bangsa apa negeri ini, jika guru lebih berfikir untuk memilih buku pengayaan yang memberi ‘persenan’ besar baginya, daripada memilihkan buku yang lebih cocok dan berkualitas bagi siswanya? bahkan berkorupsi untuk pengadaan LKS sekolah, serta markup nilai para siswa agar tidak ditegur oleh kepala sekolah.

Mungkinkah guru-guru kita nanti bisa menjadi motivator yang baik bagi siswa- siswanya, seperti menyulap siswa yang benci matematika menjadi penikmat matematika hanya karena perumpamaan sederhana? mungkinkah guru-guru kita selalu bisa membawa siswanya untuk menyingkap misteri ilmu pengetahuan sehingga siswa penasaran untuk menemukannya di masa depan kelak? mungkinkah ada guru yang mendorong siswanya untuk rajin berlatih bahasa asing agar ketika besar bisa berjalan-jalan di luar negeri dan menyerap kemajuan peradaban untuk disesuaikan dengan kultur Indonesia, dan mempromosikan negara ini di luar sana, negara ini akan sulit menata tiap kotanya kalau pemimpinnya tidak tahu pasti seperti apa tata kota yang baik, memang semua tidak sesederhana tulisan ini, namun terispirasikah para guru untuk melakukannya?

Hanya orang tua yang memiliki passion sebagai orang tua yang akan sabar dan telaten dalam membimbing anaknya, begitu juga guru, tanpa passion semua hanya akan menjadi keterpaksaan semata, mendidik dan membimbing hanyalah rutinitas pekerjaan bahkan pencitraan, ketika guru mengajar dengan passion energinya akan sangat besar untuk selalu belajar dan mengajarkan, kita butuh guru olah raga yang memiliki cita-cita ada siswanya yang menjadi atlet berprestasi kelak, kita butuh guru agama yang mampu dengan santun menjelaskan mengapa kita beragama dengan hati, kita butuh guru matematika yang mampu mengantarkan arsitek ternama dunia, kita butuh guru seni yang tersenyum bahagia saat siswanya pandai berekspresi, kita butuh guru yang kreatif membuat jembatan keledai agar siswa mudah untuk menghafal, namun lebih dari semua itu kita butuh semua guru mengerti tentang pendekatan psikologi, menjadi pembimbing dan konsultan yang nyaman dan baik bagi siswa-siswinya, bahkan hingga urusan cinta.

Melatih anak didik untuk berani mengutarakan ide dan gagasannya dengan cara memperbanyak bercengkerama layaknya sahabat juga diperlukan, kecerdasan guru akan diuji justru ketika dia harus memutuskan apakah ide itu gila dan berbahaya atau apakah ide tersebut brilian, karena guru diharapkan menjadi filter dan pengarah untuk ide-ide tersebut, bagi saya takdir Tuhan, kecerdasan dan kebijaksanaan guru-lah yang nantinya bisa membuat ide itu dikubur dalam-dalam atau dikembangkan, seperti ide menemukan pesawat, membuktikan bahwa manusia mampu membuat benda berat bisa terbang tentu membutuhkan pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, bahkan ‘puluhan hingga ratusan’ nyawa, terkadang hanya waktu yang akan menjawab dengan pasti apakah sebuah ide itu gila atau justru ide jenius.

Guru bisa menjadi mentor sekaligus teladan Self Responsibility yang baik, sehingga anak didik tahu bahwa dia bertanggungjawab dengan apa yang dilakukannya, jika guru berbuat salah kepada siswa maka sebaiknya guru tidak ragu untuk meminta maaf, sehingga siswa pun terispirasi bahwa meminta maaf itu tidaklah memalukan, dan meminta maaf adalah salah satu contoh tanggungjawab, guru yang paham bahwa siswa pun berhak untuk dihargai, tidak mencela ketidakmampuan siswa secara frontal, namun menyampaikannya dengan tidak membuat siswa merasa direndahkan, dan siswa juga bisa mencontohnya sehingga tindak bullying bisa diminimalisasi, semua ini sangat berat dan membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, namun passion membungkam semua kendala itu.

Untuk menguji passion itulah diperlukan test perekrutan guru sebelum calon guru itu kuliah, sehingga jika tidak ada passion dan sense sebagai guru jangan diijinkan untuk kuliah di Fakultas Pendidikan, memberikan beasiswa besar bagi para calon guru yang memiliki passion tinggi, akan lebih banyak manfaat daripada sekedar memperbesar gaji guru.

Mengutip tulisan pak Faizil Adhim di majalah Hadila edisi 65, Kita tidak mungkin berfikir tentang metode, jika pelaku pendidik tidak yakin betul apa yang ingin dihasilkan dari pendidikan itu, sama seperti untuk apa kita riuh rendah bicara kurikulum, jika tidak ada pemahaman tentang lulusan seperti apa yang ingin kita hasilkan dan mengapa kita perlukan, jangan sampai semua itu berakhir hanya demi nilai di rapor semata, apakah orang pintar hanya dinilai dari ‘rapor’? padahal ‘pintar’ menurut pandangan masing-masing pribadi sangat berbeda-beda, pintar seperti Rancho “Phunsukh Wangdu” si jenius, seperti Chatur “Silencer” si textbook, atau justru seperti farhan dan Raju si pembelajar di film 3 Idiots, jadi jangan sampai pupuskan cita-cita siswa hanya karena rapor jeblok, guru hebat menurut saya adalah yang mampu menggali potensi siswanya.

Guru yang mengajar dan membimbing dengan passion akan menjadi icon pada setiap ilmu yang diterima siswanya secara tak sadar, siswa sendiri akan menyadarinya justru ketika dia telah dewasa, saat dia mulai menyadari ilmu apa yang dulu diajarkan gurunya kini telah menjadi menjadi hal riil yang nyata dihadapi, saya dan mantan siswa-siswi yang lain kini menghadapi dunia yang nyata dari akumulasi didikan dan bimbingan puluhan guru di masa lalu hingga kini.

Bagaimanapun saya sangat peduli dengan kualitas pendidikan di Indonesia, karena nantinya saya akan mempercayakan anak-anak ke pembimbing tersebut, dan saya yakin kemajuan sebuah negara disebabkan oleh kualitas pendidikannya, namun agar kemajuan negara tidak sekedar maju namun melejit, kita butuh guru sekaligus mentor dan motivator yang sabar, telaten, dan inspiratif, maju terus pendidikan Indonesia, cayooo…!!!

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

9 Comments

dHaNy

Wah perjalanan ngangsu ngelmunya terekam apik mas, saya malah lupa momen apa aja yg menarik selama sekolah hehe

Dani

Andaikan guru IPS saya ada yang seperti Pak Kasdi mungkin saya bakalan suka sama IPS mas.Hehehe

triunt

masa sih semua lupa mas?
pasti ada lah yang diingat, biasanya guru yang sifatnya agak ‘nendang’ yg mudah diingat, misal guru yg ‘galak’ :)

triunt

Nah itu dia, hafalan dari pak Kasdi tak luntur sampai sekarang.
saya masih ingat betul sebagian jembatan keledainya.
Cukup bermanfaat sampai skrg.

Aprieformac

Mampir mas tiyu, inspiratif sekali. Mengingatkan masa2 indah saya waktu SMP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>