Selamat Jalan Uje…

Sebagai seseorang yang sehari-hari beraktifitas dengan ustadz dan dunia Islam, saya tahu betul sebuah pesan yang sepertinya sering sekali didengungkan dikala pengajian, “Iman seseorang ini tidak selalu stabil, bisa naik bisa turun, karena kita manusia”, ya dilingkungan kerja saya yang penuh dengan orang alim saja menyadari penuh dengan hal itu, ustadz bisa khilaf, murrabi bisa keliru, tapi saya yakin bahwa mereka punya passion untuk selalu lebih baik dan belajar, ustadz yang baik akan tetap belajar, semakin tinggi ilmunya akan semakin bijak.

  “Jika ada orang berilmu tapi masih suka menjatuhkan orang lain di depan umum untuk menunjukkan dirinya lebih pintar, dia bukanlah orang berilmu yang bijak,” UST JEFRY AL BUCHORI

Saya juga sudah lama juga punya prinsip, bahwa lebih baik bekas preman yang taubat, daripada mantan ustadz, itulah mengapa saya selalu salut dengan orang yang sebelumnya cenderung nakal tapi pelan dan pasti dia mempelajari agama dan belajar mengaplikasikannya dalam kehidupan, bahkan tak harus pakai baju koko, tak harus pakai surban dan peci, bahkan tak perlu bawa tasbih kemana-mana, cukup dengan memberi contoh yang baik dan bijak saja, bagi saya sudah seribu kali cukup daripada sebuah ceramah.

Alm Uje (selanjutnya dipanggil Uje) adalah salah satu sosok yang saya kagumi sejak lama, bagi saya kondisi dia sebagai mantan orang tidak bener dan berbalik menjadi dai sudah menjadikannya lebih hebat dimata saya pribadi, perubahannya menjadikan inspirasi yang dahsyat dan menghapus paradigma lama, bahwa seorang Dai adalah orang yang alim sejak kecil, meski Uje kecil telah dididik dengan pendidikan agama yang kuat, namun kala itu passion dia mungkin tidak ada disana, mungkin dia hanya terpaksa melakukannya, tapi hidayah menuntunnya berubah menuju dunia yang akrab dengan ‘minim khilaf’ ini, dipercaya atau tidak pendidikan masa kecilnya telah menjadi bekal besar untuk perubahan ini, dan memudahkan karirnya sebagai Dai terkenal di negeri ini.

Bicara tentang sosok Uje tak lepas dari proses titik balik dia menjadi orang alim, dimulai dengan menikah dengan Pipik dan minim uang, bahkan keduanya tidak memiliki pekerjaan, bahkan untuk makan pun pernah sepiring berdua, namun nampaknya Pipik sangat sabar dan tak bosan untuk mengingatkan Uje, perubahan Uje muncul ketika Pipik hamil, takdir memberi kesempatan Uje dalam pintu kemudahan untuk berdakwah dengan berceramah, honor Rp. 35.000 itu langsung diberikan ke istrinya, “Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan,” kenang Uje. selanjutnya Uje makin sering diundang untuk ceramah dan seminar anti narkoba, memang tidak semua kalangan mudah menerimanya, tapi Uje go Ahead. 

Dalam acara “Just Alvin” di MetroTV 2009, UJ cerita tentang awal dakwahnya, Saat diawal dakwahnya beliau bersikap amat keras. Disktotik yg ada di dekat rumahnya, disambanginya bersama rekan2 yg lain. Merusak dan melempar kursi dan meja yg ada disana, sampai akhirnya dihentikan oleh kepolisian.

Polisi: “Ini anarkis”

UJ: “Anarkis itu ada 2: anarkis fisik dan anarkis moral. Anarkis fisik dalam semalam saja bisa diperbaiki, kalo anarkis moral belum butuh waktu lama untuk memperbaiki. Anak kena narkoba apa bisa langsung baik”

tapi setelah direnungi, beliau melihat bahwa kok dakwah seperti ini malah bikin semakin jauh. Siapapun orangnya yg berbuat maksiat dan dosa akan tersakiti jika dikerasi. pelacurpun akan marah jika dipanggil dengan sebutan itu (sumber)

Pada masa keemasannya mantan pemakai narkoba ini beberapa kali berkolaborasi dengan penyanyi terkenal nasional, salah satunya adalah Ya Robbana dimana dinyanyikan bersama mantan rocker Opick, lagu itu seingat saya pernah menjadi soundtrack sebuah sinetron religi, suara Uje kadang lirih namun lebih sering melengking, utamanya saat menyebutkan ayat-ayat Quran, bukti bahwa dia memang pantas pernah menjadi juara MTQ.

Kini ustadz gaul itu telah pergi, semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya, Aamiin. mati satu tumbuh seribu, semua orang bisa berkesempatan (ditakdirkan) menjadi dai, jikalau nanti sahabat-sahabat jadi Dai kondang dan tarif naik tinggi, ingatlah bahwa berceramah pada rakyat kecil yang tidak mampu membayar bisa menjadi kesempatan untuk shodaqoh, perjuangan Uje dari titik terbawah pun bisa menjadi inspirasi dan motivasi luar biasa, Allahumma uktubhu ‘indaka fil muhsinin waj’al kitabahu fi ‘illiyyin wakhlufhu fi ahlihi fil ghabirin wala tahrimna ajrahu wala taftinna ba’dahu.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>