Simply Love, Si Adaptatif dan Si Robot!

Iseng-iseng ikutan Goodreads Giveaway, saya akhirnya dapet sebuah novel gratis, Judulnya ‘Simply Love’ karya Ifa Avianty, makasih mbak Ifa dan Noura Books atas bukunya, buku ini bisa didapat di IDbuku.com juga lho.

Saya akhirnya sempatkan baca buku ini ketika saya mengalami musibah yg alhamdulillah cukup ringan, disela-sela waktu recovery inilah saya baca tuntas buku ini, detail tentang kecelakaan ini akan saya bahas di post lain aja, dan ini pertama kalinya saya Ngetik blog post pakai Hp, ternyata gampang dan cepet, ya ini karena tangan kiri saya masih lecet2 dan belum memungkinkan untuk Ngetik di keyboard laptop.

‘Simply Love’ adalah sebuah novel tentang kisah cinta suami istri, tentang Keke si gadis aktif dikala kuliah yang berkenalan dengan Wim cowok ganteng tapi culun jika pas pakai kacamata, kala itu si Keke adalah gadis manja yang gak bisa mengerjakan pekerjaan di rumah, bahkan mencuci sekalipun!

Membaca review di Goodreads sebenarnya agak membuat saya sedikit malas untuk menyegerakan membaca, ya karena tertulis bahwa Keke menjelma menjadi mesin produksi anak, padahal saya sendiri tidak simpatik dengan yang namanya keluarga yang punya banyak anak (lebih dari 3), apapun motivasinya.

Namun ketika bedrest itulah saya akhirnya bisa menyelesaikan buku ini, bahkan saya cepat ketika membacanya, hanya dalam 3 jam, bukti bahwa saya menikmati buku ini, Keke dan Wim akhirnya menikah, dengan ajakan menikah yang gak banget, ajakan menikah yang nuansanya seperti ajakan beli siomay, gak serius sama sekali, dan tak lama dari peristiwa itu, akhirnya mereka pun membangun keluarga kelinci itu, ya keluarga muda dengan banyak anak, yang bikin emosi adalah Wim masih seperti robot tanpa sensor perasaan, dia terlalu asik dengan pekerjaannya sendiri, dan dia anggap Keke hanya seperti properti hidupnya, yang harus selalu setia melayani apapun kebutuhannya, mengurusi anak2nya, praktis Keke yang ketika single dulu seorang yang rame dan ceria, kini tak lebih dari ibu rumah tangga yang mengerjakan itu-itu aja, tak ada aktualisasi diri selain menonton tivi internasional kegemarannya, Keke adalah pembelajar yang baik, dari tak bisa masak jadi jago masak bahkan terkadang mengalahkan Manda adik iparnya yang jago masak, sampai anak ke empat Wim masih menjadi suami robot terprogram dan terjadwal, minim perasaan, disini saya mikir “Wim lo hutang budi banyak sama istri lo, istri lo banyak belajar tapi lo??”.

Tapi ternyata sifat bawaan Keke muda tidak hilang begitu saja, semenjak anak ke empat lahir, Keke mulai menampakkan sikap memberontaknya, sebetulnya dia hanya butuh diberi ruang pribadi, ruang yang bisa membuatnya lebih bisa menikmati hidup, dimana Wim muak pernah memberi sinyal setuju, perjalanan mendapatkan ruang untuk mengembangkan diri inilah yang akhirnya menjadi konflik yang harus diselesaikan hingga ending buku ini, berkat rumitnya masalah yang sebenarnya sepele ini, karena memang Wim merupakan tipikal ‘sweat small stuff’ man, konflik sebenarnya hanya karena sifat Wim yang tidak normal ini aja, dan ending menjadi melegakan juga karena Wim ‘berkorban’ untuk memperbolehkan Keke membangun ruang untuk mengembangkan hobbynya, yang sebenarnya bagi suami normal itu adalah hal biasa.

Menurut saya sifat Keke yang cepat belajar, cepat beradaptasi, ini harusnya menjadi anugrah yang luar biasa bagi suami, tapi Wim masih tetap seperti robot misterius yang baru menjadi manusia ketika didiamkan, meski sesungguhnya ketika menjadi manusia Wim akan menjadi makhluk ekspresif, namun itu sangat jarang sekali.

Saya suka cara Ifa Avianty menulis dengan sudut pandang yang berpindah-pindah, dari sudut pandang Keke, Wim dan tokoh lainnya, meski mayoritas adalah sudut pandang Keke, ketika membaca dari sudut pandang Wim rasa-rasanya pembaca seperti diminta untuk memaklumi apa yang dipikirkan Wim, jadi bukan hanya Keke yang harus maklum dengan sifat Wim, membaca sudut pandang Wim pembaca dipaksa bahwa Wim pun punya perasaan, namun sayang perasaan itu hanya berhenti di hati (atau mungkin otak) dia nggak banyak action, payah juga sih, ditambah Wim yang kaku, nggak punya toleransi, wah nyebelin sekali, dia benar-benar robot dia bukan manusia, ibarat manusia mungkin ‘perasaan’nya lupa belum dipasang, atau mungkin perasaannya sudah diinstall tapi lupa dikoneksikan dengan sensor motoriknya.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>