Solo, Sebuah Keramahan yang Terkenang

Hari ini jika kau menginjak Solo…
Sebuah keramahan sejati akan kau dapati
Disini kami bangga akan kota Kami
Dibalik keluwesan yang selalu siap melihat perubahan
Kami sadar akan modernisasi…
Disini ada budaya, budaya yang melekat di setiap gaya hidup kami
Hingga disini kau akan merasakan sebuah identitas
Tentang budaya yang berkembang…
Darah Jawa itu akan mengalir Jauh
Seperti Bengawan yang menjelajah Pulau yang kami pijak
Sampai kau akan selalu mengingat kota ini
Saat teringat orang Jawa yang penuh keluwesan
Wong Solo
Surakarta, kota berwilayah sempit yang terletak 60 km sebelah timur Laut Yogyakarta dan 100 km sebelah selatan Semarang ini tak terlalu banyak dikenal penduduk Indonesia, mereka lebih mengenal nama Solo yang sudah telanjur menggelora di iklan-iklan media masa Indonesia, dalam pemberitaan, jurusan penerbangan, selalu tertulis nama Solo yang sebenarnya bernama resmi Surakarta ini, nama yang diambil dari nama kerajaan pecahan Mataram Islam yang juga berpusat di kota ini dan juga telah ikut di abadikan di nama sungai yang melintasinya, Bengawan.

Solo terkenal dengan karakter masyarakatnya yang lemah lembut, statis dan dapat bersifat offensif jika merasa dikecewakan, lihat saja sejarah beberapa tahun yang lalu dimana beberapa kali Balai Kota Solo dibakar, masih juga teringat dalam ingatan tentang kecamuk reformasi yang justru begitu mengerikan terjadi di Solo, membuat kelembutan kota ini menyimpan misteri yang benar-benar tidak mampu untuk disanggah, mungkin ini merupakan sebuah cermin bahwa ditengah sifatnya yang seolah nerimo tersimpan pribadi kritis dalam karakternya yang lemah lembut.


Dalam kenyataannya Solo sekarang sudah melakukan pergeseran karakter, dari sifatnya yang dulu statis sekarang telah mengikuti karakter baru yang mau tidak mau harus diterima, Karakter dinamislah yang saya maksud, sebuah penjiwaan untuk mengikuti perkembangan zaman, lihat saja, masyarakat Solo sekarang yang tetap mampu mengikuti tren gaya hidup layaknya masyarakat kota besar, mereka mampu beradaptasi dengan gejolak modernisasi yang masuk ke kota mereka, tetapi perlu diingat, masyarakat Solo tidak lantas lupa akan budaya aslinya, mereka cukup pintar untuk memilih dan memilah budaya mereka yang tetap bisa dipakai sebagai tren, menjadi tren revolusioner yang membuat kota lain sempat heran dan takjub, diprakarsai oleh Sang Walikota Joko Wododo (Jokowi), Solo sukses memprogramkan penambahan Aksara Jawa di nama Instansi Pemerintahan Kota Solo, dan hebatnya langkah itu diikuti oleh instansi swasta di Solo, dan sekarang lihat saja, Mall, Bank Internasional, Jalan, Hotel, Kantor Perwakilan Swasta, Hingga proyek yang sedang dibangun kebanyakan sudah memasang aksara Jawa, hal ini membuat harga dari sebuah huruf Jawa menjadi cukup mahal di Solo, disini yang terlihat bukan lagi seperti doktrin tentang “Orang jawa harus nguri-uri budaya dengan huruf Jawa” tetapi “Orang Solo berhasil menyulap huruf kuno menjadi tren yang sangat modern”, huruf yang meliuk-liuk itu kini telah berubah laksana lambang kebesaran kota Solo, seperti orang Jepang yang yang sangat cinta dengan Huruf Kanjinya. Satu lagi, meskipun batik Solo bukan yang paling terkenal di Indonesia namun banyak masyarakat luar kota yang suka dengan motif batik Solo, berpondasi dari batik tulis khas Laweyan dan Kauman, juga didukung Industri Batik Solo yang memiliki jaringan besar di Indonesia seperti Batik Danarhadi dan Batik Keris, pemasaran yang cukup populer dengan adanya Pasar Klewer dan Pusat Grosir Solo yang menjadi rujukan wisatawan, Batik semakin menjadi tren fashion masa kini setelah didesain sedemikian rupa, dan sekarang Anak-anak muda sudah tidak terdoktrinkan bahwa memakai Batik adalah kuno, tetapi mereka justru berbondong-bondong memesan pakaian berbahan batik, hebatnya batik sekarang justru menjadi icon style masa kini, mungkin seperti kimono Jepang juga.

Solo sekarang sangat dinamis, disini ada masyarakat anak muda yang bergejolak untuk mengembangkan darah kreatifitasnya yang meluap-luap, entah itu seni, teknologi,dan edukasi hingga selalu ada saja ruang-ruang tak terjamah yang justru menjadi surga bagi seniman fotografi anak muda Solo, beruntung Solo masih punya Kavallerie-Artilerrie sisa bangunan belanda, Benteng Vastenburg, Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, pasar gedhe sebagai bukti bahwa Solo sangat melindungi eksistensi bangunan cagar Budaya dibalik serangan investor yang kadang terlihat begitu menggiurkan, mereka mampu memilah dan memilih bangunan mana yang boleh dibangun di Solo dan membuktikan bahwa masyarakat Solo tidak asal terima pembangunan disaat kota-kota lain menyesal atas hilangnya cagar budaya mereka demi sebuah alasan ekonomi yang selalu memaksa.
Dalam hal pembangunan Solo juga cukup maju, disaat Jogja stagnan akibat gempa, Solo yang dipimpin Pak Jokowi justru getol membangun, Ibis Hotel telah selesai dibangun, Solo Center Point, Kusuma Mulia Tower, dan yang terbesar ada Solo Paragon, disamping itu pembangunan dan penataan kota oleh pemerintah, lihat saja Slamet Riyadi CityWalk, Balekambang, Kalianyar, Gladag Langen Bogan, Tugu Gladag yang telah selesai direvitalisasi, Pak Jokowi juga dengan sangat hebatnya mampu merelokasi PKL-PKL yang berada di sekitaran kota yang sejak dulu paling susah dipindahkan.
Dalam segi pendidikan Solo juga maju pesat, Universitas Sebelas Maret universitas kebanggaan Wong Solo itu juga naik peringkat menjadi 10 besar Universitas Terbaik Nasional, sebuah perkembangan yang butuh perjuangan untuk menggapainya, suatu hal yang bisa dipertimbangkan pelajar luar kota untuk berkuliah di Solo, meskipun di Solo bukan pusat kota Pendidikan tapi setidaknya kita bisa belajar dari kota sebelah (Jogja) agar tidak terlalu tertinggal.


Jadi singgahlah sejenak ke Solo, Kota terlahirnya kerajaan Surakarta Hadiningrat, hanya satu jam dari Jogjakarta, 2 Jam dari Semarang dengan kendaraan darat, 1 jam dari Jakarta dan Surabaya via pesawat, dan rasakan beragam fasilitas, Bandara Internasional (Batik Airport) Adi Soemarmo, Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Menikmati Indahnya sore di Kalianyar, Berwisata Kuliner di Gladag Langen Bogan di malam hari, belanja batik di Pasar Klewer, barang-barang antik di Pasar Windu jenar (Triwindu), menyaksikan pameran seni di Taman Budaya Jawa Tengah, mengunjungi kebun binatang Taman Satwa Taru Jurug, jalan kaki dan hotspot gratis di Slamet Riyadi CityWalk, menikmati suguhan wayang orang di Gedung Wayang orang Sriwedari, memberi makan Rusa yang dibiarkan bebas berlari-lari di Balekambang, menyaksikan pertandingan olahraga di Stadion Manahan, GOR Bhinneka, Wedangan sambil lesehan di warung HIK khas Solo, Kuliah di salah satu Universitas Ternama Nasional, Hotel melati hingga bintang lima, Stasiun Balapan, menikmati perjalanan kereta kota Prambanan Ekspress dari Jogja, merasakan kesejukan di alam pegunungan dan menyaksikan Curug Grojogan Sewu dan kebun teh di Tawangmangu lereng gunung Lawu, menikmati danau buatan dan menaiki perahu ke karamba dan menyantap nila bakar spesial di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, kembali menelusur jejak prasejarah di Sangiran, Sragen, banyak pilihan disini bagi anda yang berbackpack (Ransel), bertravelling (Koper), hingga untuk menetap (Kuliah, kerja, berbisnis), dan rasakan keramahan yang diberikan oleh Solo.


Dan jika telah kau injak bumi kami
Ku ingin kau bercerita tentang kotaku ini
Ceritakan apa yang kau rasa apapun itu
Kepada siapapun yang kau temui pertama kali
Di kotamu
Kota ini akan menunggu
Kau bawa serta keluargamu, menjenguk kota kecil ini kembali
Kami akan selalu berubah
Tetapi Solo tetap akan pada budayanya
Sehingga kau akan tetap merasakannya
Tentang keramahan itu..
Tentang Surakarta
Terimakasih kepada :
- Bloggos
- Bengawan.org
- WordPress
- Forumer Skyscrapercity.com Solo, Khususnya juga Mas Gantengscool dan Om Ampelio
- Forumer Bluefame.com
- Kaskuser
- Dinas Pariwisata seni dan Budaya Surakarta
- Mereka-mereka yang mencintai Solo, dan turut peduli dengan perkembangan Solo.
- Solopos (Cyber media)
- Radar Solo
- Harian Joglosemar
- Dan tempat saya menimba informasi mengenai Solo yang tak dapat disebutkan satu persatu.
Keterangan foto :
1. Rendezvous of Solo, lokasi pasar gedhe, oleh Triunt
2. Welcome to Solo, Lokasi Jl. Jendral Sudirman Gladag, oleh Triunt
3. Patung Samet Riyadi, Lokasi Gladag, oleh Triunt
4. Gapura UNS, oleh Triunt
5. Pasar Klewer, oleh Triunt
6. Solo on the Night Spot, Lokasi pasar Gedhe, oleh Triunt
7. Bhinneka GOR, oleh gantengscool (Skyscrapercity Solo)
8. KRDE Prambanan Express,oleh Alphonse Not-Elric (Skyscrapercity Solo)
9. Bengawan Solo, oleh gantengscool (Skyscrapercity Solo)
10. Bandara Batik, Adi Soemarmo Solo, oleh gantengscool (Skyscrapercity Solo)
11. Kebun teh Lawu, oleh
12. Waduk Gajah Mungkur, oleh Triunt
12 Comments
« Backpack to Semarang – Day 1 | Home | Sebuah Usul Konsep Branding Tentang Kota Kelahiranku Wonogiri »

solo memang nyaman, tapi sekarang kenyamana itu hampir pudar buatku, walopun dulu mengukir hidup 4 tahn di sana
salam kenal, by nurrahman
-theme wp nya sama-
komplit, komplit, komplit tentang solonya!
salam kenal, mas
hidup Solo………!!!!!!!!!!!!
Komplit tenan nda, salut. Empat jempol, lima bintang!
Sabtu budhal ke Balekambang yak
weleh2, sing muja muji ki lo. belasan tahun kula teng solo, kok ra iso mbiji kaya ngene ya
@nurrahman18 : tetep cinta Solo broo…!!
@haris & tukang nggunem : hidup Solo jga.
@Dony Alfan : Doain aja diriku hadir…weeeh koyo tamu besar…
@adik : Semoga anda bersyukur tuh punya walikota Pa’ Jokowi.
Keyen. . .org wng bsa menilai tentang solo dgn komplit gt:-D
Hmm, gak tau nulisnya ngalir gitu aja kok…
Solo memang penuh dengan ragam budaya dan pluralisme. tapi semua itu mungkin akan segera hilang dengan oknum-oknum yang kurang bisa dalam berbudi pekerti.
Saya sendiri bisa merasakan Solo yang telah berubah sekarang
pokoke apapun makanannya kalau di solo pasti mangstabb…
heee
Boyolali jg punya bandara ha ha, jgn lupa jg ke sanaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Wisata Kuliner……
Muanteb Puoooolll
(sayang cuma bisa berangan angan…… Mimpi & gak ada kepastian)
Miss U…..& still wait for me…… CABUK RAMBAK