Suatu Hari Pesawat Indonesia Akan Terbang ke Semua Negeri

habibie2

“keliling dunia dengan pesawat terbang buatan bangsanya” Nurtanio

Selalu ada cerita dalam berdirinya tonggak industri pesawat di Indonesia, selalu ada mimpi yang melingkupinya, laksamana muda ini bermimpi “keliling dunia dengan pesawat terbang buatan bangsanya”, beliau adalah Nurtanio, sebuah nama yang senantiasa disebut ayah saya ketika saya kecil dulu, sebuah nama yang membuat saya justru membayangkan sesuatu yang berbau nuklir ketika mendengar nama tersebut, dia adalah sosok yang ‘prigel’ (kreatif), berkat kreativitas beliau, maka muncullah Sikumbang, Kunang-kunang, Belalang dan Gelatik, demi mewujudkan cita-cita besarnya, dia memperbaiki Super Aero di Kemayoran agar bisa diterbangkan kembali, dia beri nama Api Revolusi (Arev), dari namanya tergambar jelas semangat apa yang dipikirkannya, Pada hari penerbangan ujicoba itu Nurtanio meninggal karena jatuh bersama Arev, namun api revolusi itu tak pernah padam, Api itu selalu menghinggapi idealis muda yang terinspirasi darinya, nama Nurtanio diabadikan dalam LIPNUR.

Mengenang Nurtanio selalu membuat saya mengingat sahabatnya, Wiweko Soepono, dia adalah penemu Garuda Cockpit / Wiweko Cockpit, dia yang mencetuskan bahwa pesawat jumbo cukup membutuhkan 2 awak pesawat untuk menerbangkannya, tentunya ini bukan isapan jempol semata karena Wiweko punya jam terbang tinggi dan beberapa diantaranya dia menerbangkan pesawat seorang diri, cockpit 2 awak pertama diterapkan di Airbus A 300B-4 yang dipesan Garuda Indonesia, model ini sempat ditentang oleh banyak kalangan termasuk Boeing, namun akhirnya Boeing pun ikut menerapkan teknologi ini pada Boeing 747 400 dan 777, saya menyebutnya dengan Mr. forward-facing,  kiprah Wiweko tak hanya urusan Kokpit, Wiweko pernah ditugasi Presiden Soekarno untuk membeli DC 3 Dakota, yang sedianya akan menjadi pesawat RI 001, namun pesawat itu gagal masuk ke Indonesia karena dihalangi oleh Belanda, maka ide Wiweko lah yang akhirnya mendirikan Indonesian Airways di Myanmar dengan pesawat tersebut, ternyata pesawat tersebut laris mengangkut penumpang baik sipil maupun militer, ya maskapai Indonesia itu berjaya di negeri seberang sebelum sempat menginjakkan kakinya di negeri pemiliknya, dari pendapatan Indonesian Airways, usaha itu bisa menyumbangkan pesawat C-47 untuk RI, tada tahun 1968 Wiweko diangkat menjadi direktur utama Garuda Indonesia, di Garuda Wiweko sangat ketat dalam hal keuangan dan memberikan gaji yang tidak besar, sehingga banyak pilot yang ngobyek, Wiweko mengetahui hal itu dan dia sampaikan kalimat ini kepada pilot-pilotnya “Saya tahu bahwa gaji yang diberikan sangat kurang, namun janganlah sekali-kali menjadi pencuri” ujarnya tegas.

“Saya tahu bahwa gaji yang diberikan sangat kurang, namun janganlah sekali-kali menjadi pencuri” Wiwoko Soepono

Terakhir, siapa tak kenal Habibie, risetnya tentang termoelastisitas, serta tesisnya mengenai bahan konstruksi ringan untuk pesawat supersonik dan hipersonik menarik minat Airbus dan Boeing untuk merekrutnya, tapi Habibie menolaknya, teorinya yang paling terkenal bernama Teori Retakan Pesawat, sebelumnya produsen pesawat demi meningkatkan tingkat keselamatan pesawat maka digunakanlah bahan baku yang bisa mencegah sebaik mungkin retakan pesawat utamanya sayap, sehingga material yang dibutuhkan menjadi sangat berat, riset Habibie menemukan teori untuk menghitung titik retak, setelah teori ini muncul maka pahan baku pesawat bisa dihitung ulang sehingga tidak memerlukan baja yang berlebihan karena hanya akan terjadi pemborosan, dengan mengurangi takaran baja dan aluminium yang massanya lebih ringan ditambah, sehingga pesawat menjadi lebih ringan, teori ini disebut sebagai Habibie Factor.

Pesawat masa kini banyak yang menggunakan teknologi Fly by Wire, teknologi ini terdiri dari sensor-sensor yang terletak di beberapa titik-titik kontrol pesawat dan diolah oleh sistem komputer sehingga turut campur dalam pengendalian pesawat, teknologi ini bagi pesawat sipil sangat memudahkan pilot untuk menstabilkan pesawat, dia akan menjaga pesawat tetap terbang lurus atau belok teratur pada saat ada gangguan di luar seperti dorongan angin dan perubahan tekanan udara, dan yang perlu dicatat adalah N-250 buatan IPTN itu adalah pesawat sipil kedua yang menerapkan teknologi Fly by Wire ini setelah A-300, bisa terbayang bukan sebenarnya seberapa canggih N-250 kala itu?

Meski N-250 kini harus dikandangkan, tapi cita-cita negeri ini untuk bisa menerbangkan pesawatnya sendiri takkan pernah pudar, jikapun boleh berandai, Jika N-250 dulu tidak berhenti dikembangkan sangat mungkin IPTN mampu mengalahkan Embraer, mengingat teknologi Fly by Wire saat itu masih sangat canggih, selain canggih teknologi ini juga mahal, buktinya di medio 2010-2011 Habibie pernah mengajukan dana ke pemerintah sebesar 500 juta USD untuk merancang kembali N-250, dengan menghilangkan beberapa teknologi, salah satunya adalah Fly by Wire.

Saya tetap optimis, N-250 dan N-2130 suatu saat nanti akan terbang, mungkin dengan nama yang berbeda, R-80 yang digadang-gadang Habibie itu mungkin? jika pesawat itu terbang, maskapai raksasa seperti Lion Air tak hanya akan inden ratusan pesawat ke Boeing atau Airbus, tapi juga ke perusahaan pesawat dalam negeri, baik PT DI atau Ragio Afiasi, karena bagaimanapun negeri ini adalah negeri puluhan bandara, pesawat asli Indonesia suatu saat harus menginjakkan kaki di puluhan bandara itu, dan terbang ke negara-negara seluruh dunia, jika industri ini berjalan insinyur kita yang kini ada di Boeing, Airbus, Bombardier, dan Embraer bisa pulang kampung ikut mewujudkan mimpi besar ini, mungkin gajinya akan turun drastis, tapi kecintaan kepada negeri akan membawanya pulang.

“Ini bukan buatan saya. Ini hasil karya insinyur-insinyur Indonesia” B.J. Habibie

“Belajar yang pintar, biar jadi seperti B.J. Habibie” itu cara ayah saya memotivasi ketika saya kecil, beliau memang sangat kagum dengan pesawat terbang, masih ku ingat antusiasnya kami ketika menonton di TVRI 10 Agustus 1995, masih di suasana 50 tahun Indonesia merdeka, saya kecil masih mengingat detik-detik acara tersebut, saya dibuat tahu bahwa ini kejadian luar biasa, suatu hari kejadian luar biasa itu akan terjadi kembali, saya yakin.

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

12 Comments

dedekusn

Semoga cita-cita orang-orang hebat Seperti BJ Habibie bisa segera terwujud. Semoga kedepan banyak muncul Habibie-Habibie lain yang bisa meneruskan cita-citanya.

giewahyudi

Wah dulu waktu kecil juga ngidolain Pak Habibie ini. Sayangnya setelah orde baru, industri pesawat kita malah seperti gulung tikar ya..

jual Software kasir toko

Saya sebagai warga negara sangat mendambakan hal ini, kita sudah seharusnya bisa membuat pesawat sendiri karena kita mempunyai profesor BJ.Habibie.
Smg segera terlasksana. amin.

najie

Mudahan seiring berjalannya zaman banyak semangat muda yg menerus kn perjuangan Habiebie d dunia aviation

Info-Menarik.NET

Kehebatan yang dimiliki pak Habibie ini memang tiada tandingnya. Dan semoga saja semua cita-citanya dapat terwujud. Kedepannya mudah-mudahan anak-anak Indonesia bisa sukses dan cerdas seperti pak Habibie.

alya

tapi sayang, lagi2 Indonesia sampe sekarang belum siap untuk menerima orang jenius. hmm miris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>