Tetap Percaya

puncak

Mau tidak mau, suka tidak suka, manusia mengalami masa-masa terbaik dan masa masa terburuk, baik itu kondisi sosial, ekonomi, mental, maupun spiritual, saya juga mengalaminya, ada saatnya mendaki ke puncak tertinggi, ada kalanya karena sebuah lubang besar seketika terhempas jatuh ke bawah, faktanya tak mudah untuk seketika berdiri, adakalanya harus mencengkeram erat-erat pegangan, dan tertatih, langkah menjadi tak semudah kemarin, tapi minimal lubang besar itu tak akan lupa dari ingatan, hanya keledai yang akan masuk ke lubang itu lagi, sehingga di lubang itu tak akan terhempas lagi.

 

Perjalanan mendaki puncak memang tidak mulus, terkadang saya harus diam sejenak kecapekan, terkadang ingin rasanya berhenti karena jenuh, kadang seperti gamang karena kehilangan penyemangat, namun visi untuk menggapai puncak itu sering seketika menyadarkan dan membuat kaki ini bergerak lagi, mengikuti barisan yang memiliki tujuan yang sama, seperti itu… ya seperti itu… kaki ini bergerak karena suatu hal, namanya ‘percaya’, jika tidak percaya akan jauh lebih baik bermain di zona nyaman di bawah sana, tak perlu bertemu lubang, tak perlu kecapekan, tak perlu terhempas jatuh dan sulit berdiri, sulit berjalan.

Di atas sana ada banyak sekali keindahan berwarna warni, ada yang menginginkan harta yang melimpah layaknya surga dunia, ada yang ke puncak bertujuan untuk menyemangati semua yang sedang berproses menuju ke puncak, ada yang menginginkan ketentraman hati dan bahagia di akhir hayat, ada pula yang ingin berbangga bahwa ‘gue sampai puncak’, cita-cita mereka berbeda beda, tergantung di barisan mana mereka mengikuti, atau bahkan membuat barisan baru, namun satu hal yang perlu dicatat yakni mereka semua ‘Percaya’ bahwa mereka mampu mencapainya.

 

Ada yang mencapainya dengan menyingkirkan yang dihadapannya dengan ganas, ada yang dengan santun berbagi di tengah perjalanan kepada barisan manapun, ada yang berjuang untuk melangkah susah payah dan terkadang berhenti untuk berdoa, ada banyak cerita dalam perjalanan itu, ada yang sebelumnya asik di zona nyaman di bawah, cukup dibawah saja nggak perlu neko-neko, namun seketika dia melihat penyemangat dan dia bersedia untuk mendaki dengan satu tekad bahwa dia akan buktikan bahwa dia bisa, tak disangka langkahnya begitu ringan, sangat ringan bahkan pendaki yang lain terkadang heran melihatnya, namun di tengah perjalanan si penyemangat pergi, dia gamang dan berjalan pelan di tengah-tengah bahkan berhenti, dia mau turun gamang, mau bangkit juga ragu, diam sejenak menyeleksi barisan yang lalu lalang disekitarnya, melihat sebenarnya apa saja yang ingin mereka raih, seketika dia tahu kemana arah dituju, ada satu barisan, wajahnya berseri-seri, mereka adalah kawanan pendaki yang menginginkan ketentraman hati dan bahagia hingga akhir hayat, diapun bergabung di barisan itu, langkahnya tak sekencang kemarin, terkadang merasakan lelah, terkadang merasakan jenuh, tapi kali ini dia tidak gamang, dia yakin dengan apa yang di atas sana, dia yakin bahwa barisan ini adalah barisan yang bisa dipercaya, dia akan terus berjalan, penyemangat itu kini tersemat di hati dan fikirannya, penyemangat itu tak akan pergi kemana-mana lagi, tak akan pernah, karena dia kini tetap percaya bahwa suatu hari dia akan sampai… di puncak.

 

Lantas bagaimana dengan penyemangat yang pergi? tak perlu dendam dan sakit hati, justru karena ‘penyemangat tidak abadi’ itulah dia bisa berdiri disana sekarang, jika tak ada ‘penyemangat tidak abadi’ itu barangkali dia masih tidur di bawah, dan tak melihat betapa indah pemandangan dari atas, penyemangat yang pergi itu adalah pemantik, namun saat tiba kalanya pergi segeralah berpegang dengan penyemangat abadi, jangan turun lagi, sia-sia energi ini jika turun lagi, jika gamang berhenti saja di tengah-tengah lalu rumuskan puncak yang baru, tetap percaya puncak itu ada.

 

Barangkali diperjalanan nanti si penyemangat tidak abadi itu terlihat di barisan, cukuplah mereka berkolaborasi untuk menggapai puncak yang sama, karena sangat mungkin penyemangat itu akan hilang lagi meninggalkan dia, tapi kini langkah telah pasti, penyemangat tidak abadi hanya akan membuat langkah ini lebih cepat dan lambat, kehilangannya tak akan membuat langkah ini berhenti lagi.

Featured photo : rizkirahmatia.wordpress.com

Written by triunt

Nama lengkap saya Tri Untoro, passionate in E-Commerce @ IDpasar Network, pecinta wisata, travel writer teori, dan aktif sebagai admin travelbuck.net (Bahasa Indonesia), serta sedang dalam proses merintis berdagang secara daring di IDbuku.com, IDbatik.com, & IDhijab.com Keep in Touch : Facebook | Twitter | LinkedIn

1 Comment

giewahyudi

Yang namanya perjalanan tentu ada kendala selama belum sampai tujuan, yang penting tetap fokus pada pemandangan indah di puncak sana, Mas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>